-
Notifications
You must be signed in to change notification settings - Fork 0
Expand file tree
/
Copy pathfeed.xml
More file actions
2688 lines (1492 loc) · 346 KB
/
feed.xml
File metadata and controls
2688 lines (1492 loc) · 346 KB
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120
121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138
139
140
141
142
143
144
145
146
147
148
149
150
151
152
153
154
155
156
157
158
159
160
161
162
163
164
165
166
167
168
169
170
171
172
173
174
175
176
177
178
179
180
181
182
183
184
185
186
187
188
189
190
191
192
193
194
195
196
197
198
199
200
201
202
203
204
205
206
207
208
209
210
211
212
213
214
215
216
217
218
219
220
221
222
223
224
225
226
227
228
229
230
231
232
233
234
235
236
237
238
239
240
241
242
243
244
245
246
247
248
249
250
251
252
253
254
255
256
257
258
259
260
261
262
263
264
265
266
267
268
269
270
271
272
273
274
275
276
277
278
279
280
281
282
283
284
285
286
287
288
289
290
291
292
293
294
295
296
297
298
299
300
301
302
303
304
305
306
307
308
309
310
311
312
313
314
315
316
317
318
319
320
321
322
323
324
325
326
327
328
329
330
331
332
333
334
335
336
337
338
339
340
341
342
343
344
345
346
347
348
349
350
351
352
353
354
355
356
357
358
359
360
361
362
363
364
365
366
367
368
369
370
371
372
373
374
375
376
377
378
379
380
381
382
383
384
385
386
387
388
389
390
391
392
393
394
395
396
397
398
399
400
401
402
403
404
405
406
407
408
409
410
411
412
413
414
415
416
417
418
419
420
421
422
423
424
425
426
427
428
429
430
431
432
433
434
435
436
437
438
439
440
441
442
443
444
445
446
447
448
449
450
451
452
453
454
455
456
457
458
459
460
461
462
463
464
465
466
467
468
469
470
471
472
473
474
475
476
477
478
479
480
481
482
483
484
485
486
487
488
489
490
491
492
493
494
495
496
497
498
499
500
501
502
503
504
505
506
507
508
509
510
511
512
513
514
515
516
517
518
519
520
521
522
523
524
525
526
527
528
529
530
531
532
533
534
535
536
537
538
539
540
541
542
543
544
545
546
547
548
549
550
551
552
553
554
555
556
557
558
559
560
561
562
563
564
565
566
567
568
569
570
571
572
573
574
575
576
577
578
579
580
581
582
583
584
585
586
587
588
589
590
591
592
593
594
595
596
597
598
599
600
601
602
603
604
605
606
607
608
609
610
611
612
613
614
615
616
617
618
619
620
621
622
623
624
625
626
627
628
629
630
631
632
633
634
635
636
637
638
639
640
641
642
643
644
645
646
647
648
649
650
651
652
653
654
655
656
657
658
659
660
661
662
663
664
665
666
667
668
669
670
671
672
673
674
675
676
677
678
679
680
681
682
683
684
685
686
687
688
689
690
691
692
693
694
695
696
697
698
699
700
701
702
703
704
705
706
707
708
709
710
711
712
713
714
715
716
717
718
719
720
721
722
723
724
725
726
727
728
729
730
731
732
733
734
735
736
737
738
739
740
741
742
743
744
745
746
747
748
749
750
751
752
753
754
755
756
757
758
759
760
761
762
763
764
765
766
767
768
769
770
771
772
773
774
775
776
777
778
779
780
781
782
783
784
785
786
787
788
789
790
791
792
793
794
795
796
797
798
799
800
801
802
803
804
805
806
807
808
809
810
811
812
813
814
815
816
817
818
819
820
821
822
823
824
825
826
827
828
829
830
831
832
833
834
835
836
837
838
839
840
841
842
843
844
845
846
847
848
849
850
851
852
853
854
855
856
857
858
859
860
861
862
863
864
865
866
867
868
869
870
871
872
873
874
875
876
877
878
879
880
881
882
883
884
885
886
887
888
889
890
891
892
893
894
895
896
897
898
899
900
901
902
903
904
905
906
907
908
909
910
911
912
913
914
915
916
917
918
919
920
921
922
923
924
925
926
927
928
929
930
931
932
933
934
935
936
937
938
939
940
941
942
943
944
945
946
947
948
949
950
951
952
953
954
955
956
957
958
959
960
961
962
963
964
965
966
967
968
969
970
971
972
973
974
975
976
977
978
979
980
981
982
983
984
985
986
987
988
989
990
991
992
993
994
995
996
997
998
999
1000
<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel>
<title>archiavelli</title>
<link>https://www.harapan.me</link>
<atom:link href="https://www.harapan.me/feed.xml" rel="self" type="application/rss+xml" />
<item>
<title>Kubernetes: Up and Running</title>
<description><!-- _includes/image.html -->
<div class="image-wrapper">
<a href="/kubernetes-up-and-running" title="Kubernetes: Up and Running" target="_blank">
<img src="https://www.harapan.me//images/exlibris/kubernetesup.jpeg" alt="Kubernetes: Up and Running" style="width:350px;" class="imgjkl" />
</a>
<p class="image-caption">Kubernetes: Up and Running</p>
</div>
<p>Waktu itu aku baru pindah tim, dengan tugas baru untuk mengurusi <a href="https://blog.cloudflare.com/mlops/">Machine Learning Platform</a>. ML Platform tersebut dibangun diatas Kubernetes dan tim-ku juga berkewajiban untuk mengurus Kubernetes Cluster tersebut. Ketika pertama kali on-board ke tim, seorang kolega merekomendasikan kepadaku untuk membaca buku ini, untuk <strong>mereview sebagian besar informasi dan konsep mengenai Kubernetes</strong>. Dan itulah kesan yang juga kurasakan setelah aku menyelesaikan buku ini.</p>
<p>Dengan nama besar <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Kelsey_Hightower">Kelsey Hightower</a> sebagai salah seorang yang berpengaruh dalam bidang Kubernetes yang juga menjadi satu penulis dari buku ini, dalam pikiranku, ini akan menjadi jaminan mutu bahwa buku ini layak dijadikan salah satu rujukan untuk belajar Kubernetes. Bila buku ini dapat kita jadikan rujukan untuk belajar dasar-dasar dan konsep Kubernetes, setelah menyelesaikan buku ini, langkah praktis selanjutnya ialah belajar langsung membuat kubernetes cluster dengan mengikuti petunjuk yang telah dibuat Kelsey sejak belasan tahun yang lalu di <a href="https://github.com/kelseyhightower/kubernetes-the-hard-way">Kubernetes the Hard Way</a></p>
<p>Sebagai buku rujukan buku ini enak untuk dibaca. Aku bisa bilang bahwa buku ini bercerita dalam menyampaikan konsep-konsep baru. Namun buku ini bakalan hanya cocok untuk orang-orang yang sebaiknya sudah pernah bersinggungan dengan Kubernetes. Aku mengatakan bergitu karena berbeda dengan <a href="/kubernetes-in-action">Kubernetes in Action</a> yang menjelaskan hampir semua konsep secara mendalam, dilengkapi dengan gambar ilustrasi teknis, buku ini tidak terlalu mendetail dalam menjelaskan suatu konsep. Ketidak-detailan tersebut, tidak serta-merta membuat penjelasannya menjadi susah dimengerti, namun penulis hanya menjelaskan konsep-konsep kubernetes secara langsung pada pointnya.</p>
<p>Sebagian besar developer, menganggap bahwa Kubernetes tersebut sangat kompleks dan rumit. Dengan begitu banyak komponen pada kubernetes tersebut, serta dengan begitu banyaknya abstraksi baru dari bagaimana men-deploy aplikasi ke Kubernetes, membuat kita sebagai developer harus belajar konsep-konsep baru, serta mengerti bagaimana networking bekerja di-Kubernetes (service, ingress, loadbalancer). Oleh karena itu, ketika aku menyelesaikan buku ini, aku membuat sebuah mindmap tentang konsep-konsep Kubernetes untuk mengurai kerumitan dari Kubernetes tersebut.</p>
<!-- _includes/image.html -->
<div class="image-wrapper">
<a href="/kubernetes-up-and-running" title="Mindmap untuk konsep-konsep dari Kubernetes" target="_blank">
<img src="https://www.harapan.me//images/posts/2025/concepts.png" alt="Mindmap untuk konsep-konsep dari Kubernetes" style="width:350px;" class="imgjkl" />
</a>
<p class="image-caption">Mindmap untuk konsep-konsep dari Kubernetes</p>
</div>
</description>
<pubDate>Tue, 05 Aug 2025 00:00:00 +0700</pubDate>
<link>https://www.harapan.me/kubernetes-up-and-running</link>
<guid isPermaLink="true">https://www.harapan.me/kubernetes-up-and-running</guid>
</item>
<item>
<title>Kubernetes in Action</title>
<description><!-- _includes/image.html -->
<div class="image-wrapper">
<a href="/kubernetes-in-action" title="Kubernetes in Action - Marko Luksa" target="_blank">
<img src="https://www.harapan.me//images/exlibris/kubernetes_in_action.jpeg" alt="Kubernetes in Action - Marko Luksa" style="width:350px;" class="imgjkl" />
</a>
<p class="image-caption">Kubernetes in Action</p>
</div>
<p>Seandainya ada seorang programer/developer datang kepadaku dan bertanya “Dimana tempat belajar Kubernetes untuk pemula yang cukup komprehensif?” Aku dengan tidak ragu sedikitpun akan memberikan rekomendasi untuk membaca buku ini, “Kubernetes in Action - Marko Luksa”.</p>
<p>Buku ini disusun dengan sangat rapi dan lengkap. Dimulai dengan pengenalan tentang apa itu Kubernetes dan <em>use cases</em> mengapa Kubernetes ini akan sangat <em>powerful</em> pada infrastruktur aplikasi moderen, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan detail terhadap konsep-konsep baru dalam kubernetes beserta contoh implementasinya, hingga penjelasan mendalam dan lengkap tentang bagaimana kubernetes tersebut bekerja dan komponen-komponen pokok penyusun Kubernetes Cluster itu sendiri. Buku ini bahkan bisa aku katakan lebih bagus dari buku tentang Kubernetes lainnya yang ditulis oleh legenda Kelsey Hightower yang berjudul <a href="/kubernetes-up-and-running">“Kubernetes: Up and Running”</a>. Secara kebetulan aku membaca kedua buku tersebut berurutan.</p>
<p>Semua kalangan dari pemula yang belum pernah belajar Kubernetes sama sekali hingga seseorang yang sudah berpengalaman dibidang <em>DevOps</em> atau sudah pernah bekerja melakukan deployment dengan kubernetes bisa mengambil manfaat dari buku ini. Bagi pemula, akan sangat terbantu dengan penjelasan yang mendalam terhadap semua konsep didalam kubernetes itu sendiri, mereka dapat membaca buku ini secara berurutan, bab demi bab. Ada beberapa topik advance yang dijelaskan secara detail, seperti di-<a href="https://www.manning.com/books/kubernetes-in-action-second-edition">Chapter 11 yang berjudul Understanding Kubernetes Internals</a>, dijelaskan secara jelas komponen pendukung kubernetes di-control plane dan bagaimana mereka bekerja serta fungsi mereka pada Kubernetes. Lebih spesifik ke Scheduler dan Controller Manager, didalam buku ini dijelaskan secara singkat bagaimana mekanisme Scheduler memilih node mana yang akan digunakan untuk men-deploy sebuah Pods, hingga di-bagian Controller Manager juga dijelaskan bagaimana Controller ini bekerja untuk memastikan setiap deployment bekerja. Sebagai seorang application developer, mungkin hal ini tidak terlalu diperlukan untuk hanya sekedar bisa melakukan deployment, namun semakin senior seorang developer, pengetahuan mendasar tentang bagaimana komponen didalam Kubernetes bekerja akan sangat membantu developer tersebut untuk memahami bagaiman melakukan scaling pada cluster dan aplikasinya. Kemudian, bagi seseorang yang sudah berpengalaman, dapat dengan cepat lompat dari satu topik ke topik lain dan membaca hanya bab-bab yang diperlukan saja.</p>
<p>Edisi kedua buku ini ditargetkan akan rilis di-awal tahun 2026, dari <a href="https://www.manning.com/books/kubernetes-in-action-second-edition">progress</a> yang tersedia saat ini, penulis menambahkan kubernetes resources baru, yang baru dirilis setelah edisi pertama buku ini dirilis. Cukup menarik untuk menunggu perkembangan terbaru dari buku ini.</p>
</description>
<pubDate>Mon, 04 Aug 2025 00:00:00 +0700</pubDate>
<link>https://www.harapan.me/kubernetes-in-action</link>
<guid isPermaLink="true">https://www.harapan.me/kubernetes-in-action</guid>
</item>
<item>
<title>Men Without Women</title>
<description><!-- _includes/image.html -->
<div class="image-wrapper">
<a href="/menwomen" title="Men Without Women - Oleh Haruki Murakami" target="_blank">
<img src="https://www.harapan.me//images/exlibris/menwithoutwomen.jpg" alt="Men Without Women - Oleh Haruki Murakami" style="width:350px;" class="imgjkl" />
</a>
<p class="image-caption">Men Without Women - Oleh Haruki Murakami</p>
</div>
<p>Setelah aku menyelesaikan bukunya Murakami tentang lari yaitu <a href="/talkrunning">What I Talk About When I Talk About Running, a Memoir</a>, buku selanjutnya yang membuatku tertarik dengan Murakami ialah buku ini, Men Without Women, kumpulan cerita menyedihkan yang berusaha mengungkapkan kesedihan pria dalam kesepiannya, dalam keputus-asa-an-nya, dalam penantiannya, semua pengalaman sedih karena cinta. Lebih dari hanya sekedar cerita cengeng tentang laki-laki yang putus asa dalam mencari cintanya. Cerita-cerita yang ada disini, berkisah tentang kesuksesan seorang pria yang sudah menikah atau pria yang tahu memperlakukan wanita. Cerita tentang pria yang kehilangan separuh jiwanya, cerita tentang pria yang berharap menemukan seorang yang tepat setelah sekian lama petualangannya. Ketika hal-hal yang menyedihkan itu terjadi, banyak bentuk respon yang dari pria-pria malang tersebut. Ada yang mampu menghadapi dan mencari pelarian, ada yang secara tragis tidak mampu menghadapinya dan hancur perlahan.</p>
<p>Cerita pertama berjudul “Drive My Car”. Tentang seorang aktor bernama Kafuku yang baru saja ditinggal mati oleh istri tercintanya. Kafuku tidak hanya merasa sedih karena kepergian istrinya, namun juga kesepian. Dia hanya punya sedikit teman, salah satunya seorang pria, selingkuhan istrinya yang dijadikannya teman setelah kepergian istrinya. Setelah istrinya meninggal, selingkuhan istrinya sempat datang untuk menyampaikan duka. Murakami menyambutnya, mereka kemudian menjadi teman minum. Satu hal yang ingin Kafuku tahu ialah apa yang dicari istrinya dari pria ini, apa kekurangan Kafuku yang bisa dipenuhi oleh Pria ini.</p>
<p>Interaksi dalam cerita ini tidak diceritakan oleh sang Narator, Kafuku. Namun melalui percakapan antara Kafuku dan supirnya, seorang perempuan muda, namun aneh dan tidak menarik sama sekali sebagai perempuan. Satu yang disenanginya dari perempuan ini ialah selama perjalanan tidak banyak bicara selain juga karena dia mengetahui jalan-jalan diseluruh kota. Kafukulah yang pertama membuka obrolan, hingga panjang lebar secara langsung si supir menanyakan hal-hal pribadi dan berusaha memahami kesepian Kafuku. Dari sinilah secara lihai Murakami menyampaikan cerita tersebut, melalui narasi yang Kafuku berikan sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan si Supir. Cerita mengalir. Sang Supir tidak hanya menjadi Supir yang membawa Kafuku pulang pergi ke tempatnya bekerja. Namun juga diakhir cerita si Supir mencoba memberikan jawaban atas pertanyaan Kafuku tentang mengapa istrinya selingkuh.</p>
<p>Cerita lainnya tentang seorang dokter bedah plastik yang bernama Dr. Tokai, seorang pria yang tidak pernah menikah namun selalu terlibat dalam hubungan gelap dengan istri orang lain. Apa yang dia cari hanya hubungan fisik dan tidak ingin merusak pernikahan dari pasangan selingkuhannya. Suatu ketika dia sangat jatuh cinta pada selingkuhannya yang sudah mempunyai satu anak. Dr. Tokai menyadari bahwa dia tidak bisa melupakan selingkuhannya ini dan selingkuhannya tidak mungkin meninggalkan suaminya.</p>
<p>Dr. Tokai meminta seorang penulis yang dia temui di Gym yang bernama Tanimura untuk mencatat ceritanya ini. Tanimura berpikir untuk menuliskan ceritanya ini suatu saat. Mereka bertemu beberapa kali hingga suatu ketika Dr. Tokai tidak bisa dihubungi. Mengetahui kejanggalan itu, Tanimura menghubungi klinik kepunyaan Dr. Tokai dan ia kemudian mendapatkan kabar bahwa Dr. Tokai telah meninggal dunia. Dia meninggal setelah sekian lama merasakan sakit mengetahui bahwa selingkuhannya meninggalkan suaminya demi pria lain.</p>
</description>
<pubDate>Wed, 05 Jul 2023 00:00:00 +0700</pubDate>
<link>https://www.harapan.me/menwomen</link>
<guid isPermaLink="true">https://www.harapan.me/menwomen</guid>
</item>
<item>
<title>What We Talk About When We Talk About Love</title>
<description><!-- _includes/image.html -->
<div class="image-wrapper">
<a href="/talklove" title="What We Talk About When We Talk About Love - Raymond Craver" target="_blank">
<img src="https://www.harapan.me//images/exlibris/whatwetalkaboutlove.jpg" alt="What We Talk About When We Talk About Love - Raymond Craver" style="width:350px;" class="imgjkl" />
</a>
<p class="image-caption">What We Talk About When We Talk About Love</p>
</div>
<p>Awal mula aku tahu buku ini, ketika aku membaca buku Murakami tentang pengalamannya berlari disela-sela kesibukannya, <a href="/talkrunnig">What I Talk About When I Talk About Running, a Memoir</a>. Dengan jujur Murakami menyampaikan bahwa judul bukunya tersebut terinspirasi dari buku Raymond Carver, <a href="/talklove">What We Talk About When We Talk About Love</a>. Rasa penasaran ditambah dengan begitu banyak review yang mengatakan bahwa buku ini memukau membuatku menjadi tertarik untuk menyelesaikan bacaan ini. Dan kesimpulan yang bisa kusampaikan bahwa buku ini sangat bagus dan memberikan perspektif baru tentang cinta.</p>
<p>Kebanyakan dari kita menganggap bahwa cinta itu adalah tentang cerita indah yang selalu saling mengisi satu sama lain. Tentang kisah menemukan seseorang yang tepat seumur hidup kita. Namun Carver mengisahkan dalam bukunya bahwa cinta juga bisa berupa bentuk lain, seperti perasaan negatif dalam perbuatan kasar dan abusif, cinta juga bisa berbentuk perasaan yang memberikan kekuatan untuk merubah pasangan menjadi lebih baik, walau berulang kali disakiti dan tanpa sadar terikat dalam hubungan abusif dan toxic. Seseorang yang menyakiti pasangannya secara fisik atau perasaan juga merasakan cinta, cinta dalam bentuk berbeda. Cinta tak melulu sesuatu yang positif, namun juga hal negatif yang kita temukan dari relasi dari dua orang yang saling mencintai. Cinta yang membuat kita semakin kosong.</p>
<p>Pesan-pesan tentang cinta dalam bentuk yang berbeda yang mungkin tidak seperti cerita indah yang kita bayang-bayangkanlah yang berusaha disampaikan Raymond Carver dalam bukunya. Ceritanya dimulai dalam sebuah setting percakapan antara 4 orang sahabat tentang relationship, dimasa lalu dan yang sekarang mereka jalani. Masing-masing mereka terikat dalam pernikahan, Terri telah lama menikah dengan Mel McGinnis serta Nick telah menikah dengan Laura selama delapan bulan. Namun sebelumnya mereka telah pernah menikah dengan pasangan mereka masing-masing sebelum hidup bersama dengan pasangan mereka yang sekarang.</p>
<p>Terri mengungkap dalam ceritanya bahwa hubungannya dengan Ed dimasa lalu sangat buruk. Terri seringkali mendapatkan perlakuan kasar dan serangan-serangan fisik dari Ed, bahkan ada waktu dimana Ed berupaya membunuh Terri. Namun setiap kali melakukan perlakuan kasar itu, Ed selalu mengatakan bahwa dia mencintai Terri. Terri meyakini bahwa itu cinta, namun dalam bentuk yang lain, bukan seperti yang dia rasakan sekarang dengan Mel, suaminya yang sekarang. Sesuatu yang sulit dipahami bagaimana mungkin dalam sebuah emosi negatif dan abusif, mereka bisa merasakan cinta. Mel, suami Terri yang sekarang mempertanyakan hal itu, namun tidak dalam posisi cemburu dan menghakimi, Mel tetap memvalidasi apa yang Terri rasakan. Secara gamblang sang penulis, Raymond Craver memberikan jawaban secara langsung dengan menunjukkan bagaimana kisah antara Nick dan Laura yang dalam relasi pernikahan. Kisah hubungan relasi percintaan mereka selalu disertai dengan kontak fisik romantis dan cukup erat. Bagaimana Nick yang secara langsung memegang tangan Laura dan lalu memberikannya sebuah ciuman romantis ke Laura. Laura menunjukkan secara langsung kepada Terri bagaimana cinta yang sejati sebenarnya, sesuatu kekosongan yang dirasakan Terri selama dalam relasi yang toxic dengan Ed. Sebuah paradox dan kekontrasan antara dari relasi Terri - Ed dan Nick Laura, disatu sisi relasi Terri dan Ed yang abusif dan saling melukai menunjukkan cinta menguras Terri, disisi lain relasi Nick dan Laura menunjukkan bagaimana cinta yang saling melengkapin dan saling mengisi.</p>
<p>Dalam gilirannya bercerita, Mel juga menyampaikan bahwa kita semua seolah tahu cinta itu apa, padahal sebenarnya kita semua tidak tahu. Dia mengatakan bahwa dia mencinti Terri, tapi dia juga tahu dia juga cinta kepada istri pertamanya, Marjorie. Hal yang sama juga yang dialami oleh Terri, dimasa lalunya dia mencintai Ed, walau sekarang dia bersama Mel. Nick dan Laura yang masih dalam masa-masa “bulan madu” dalam 8 bulan pernikahan mereka, pada masa lalunya mereka mencintai orang lain. Seandainya sesuatu terjadi kepada salah satu pasangan dari mereka yang sekarang, Mel yakin, mereka masing-masing akan menangis dalam kedukaan hingga satu waktu berhenti menangis dan kembali mencoba menjalani kehidupan dan berusaha menemukan cinta yang lain. Kita tidak benar-benar tahu apa yang namanya cinta.</p>
</description>
<pubDate>Tue, 04 Jul 2023 00:00:00 +0700</pubDate>
<link>https://www.harapan.me/talklove</link>
<guid isPermaLink="true">https://www.harapan.me/talklove</guid>
</item>
<item>
<title>What I Talk About When I Talk About Running, a Memoir</title>
<description><!-- _includes/image.html -->
<div class="image-wrapper">
<a href="/talkrunning" title="What I Talk About When I Talk About Running, a Memoir - Haruki Murakami" target="_blank">
<img src="https://www.harapan.me//images/exlibris/whatitalkaboutrunning.jpg" alt="What I Talk About When I Talk About Running, a Memoir - Haruki Murakami" style="width:350px;" class="imgjkl" />
</a>
<p class="image-caption">What I Talk About When I Talk About Running, a Memoir</p>
</div>
<p>Sejak aku mulai rutin latihan <a href="/flanerun">berlari</a>, aku jadi senang belajar tentang berlari dari artikel internet, youtube video dan dari teman-teman yang telah lebih dulu memulai berlari. Termasuk salah satunya dari buku Haruki Murakami yang satu ini yang ditulisnya sebagai memoirnya tentang berlari dan bagaimana ia menjadikan lari sebagai rutinitasnya untuk terus bisa membuatnya tetap sehat, bisa menyeimbangkan hidupnya ditengah-tengah banyak pekerjaanya.</p>
<p>Murakami menuliskan buku ini seperti sebuah jurnal atau diary latihannya dalam berlari. Dia mulai serius berlari diusia 33 tahun. Saat itu dia baru saja menerbitkan buku keduanya dan memulai karirnya sebagai penulis. Dia menuliskan bahwa perubahan kehidupannya dari yang dulunya mengelola Bar bertema Jazz-nya dan kemudian beralih untuk fokus menulis membuat kesehatannya mulai menurun akibat dari duduk berjam-jam untuk menulis dan merokok. Selama dia mengelola Bar-nya juga dia merasa hidupnya sudah tidak sehat.</p>
<p>Setiap harinya Murakami menargetkan jarak tempuh sejauh 6 miles/~10 km. Berlari selama 6 hari seminggu, Murakami mendisiplinkan diri harus menempuh 35 miles/~60 km selama seminggu. Seandainya suatu hari karena kesibukan atau lain hal, dia tidak bisa menempuh jarak 6 miles, dia akan menggantikan kekurangannya itu dihari lainnya. Setiap tahunnya dia juga menargetkan untuk setidaknya ikut dalam 1 Marathon. Murakami menggambarkan bahwa konsistensinya untuk berlari membuatnya tetap waras, karena menulis baginya merupakan kegiatan yang menguras dirinya, walaupun dia sangat menikmatinya. Disisi lain, dia melakukan lari dan menulis sebagai sesuatu yang sama, jika dia menargetkan 10 km perhari untuk jarak yang ditempuhnya, begitu juga dengan menulis, Murakami menargetkan untuk dapat menyelesaikan 10 halaman tulisannya setiap hari. Dengan jujur Murakami mengungkap juga, bahwa kemampuan menulis yang indah dan kemampuan berlari juga bukan hanya sekedar talenta yang dibawa dari lahir, namun datang dari latihan berbulan-bulan dan bertahun-tahun secara konsisten</p>
<p>Seperti novel-novel lainnya, walaupun buku satu ini lebih seperti jurnal yang berbentuk cerita, tapi Murakami tidak kehilangan gaya penulisannya yang khas. Murakami menjelaskan dengan sangat detail apa yang dialaminya selama ia berlari yang membuatnya menjadi suka berlari dan ingin terus melakukannya.Menulis dan berlari mengasah kemampuannya untuk memperhatikan hal-hal yang detail. Ketika berlari Murakami tidak selalu memperhatikan apa yang dilewatinya, sebagai contoh Murakami menuliskan pengamatannya tentang seorang wanita muda yang juga selalu berlari diwaktu yang sama setiap harinya dan mereka selalu berpapasan diwaktu dan tempat yang sama. Dia mencerikan pengamatannya terhadap dunia yang ditemukannya selama berlari dengan sangat memukau.</p>
<p>Tiga puluh tahun kemudian, ketika buku ini mulai ditulisnya diumurnya yang mendekati 60 tahun, dia masih tetap menjaga rutinitasnya latihan larinya ditengah padatnya kesibukan Murakami sebagai salah satu penulis terkenal didunia. Memang ada penurunan performa yang dirasakannya dari tahun ketahun setiap dia melakukan Marathon, semakin hari juga pace larinya menurun dan porsi latihannya semakin berkurang, namun disatu sisi kesehatan dan berat badannya terjaga dengan baik, bahkan apa yang dirasakannya ialah ia lebih sehat ketika setelah dia mulai menulis dan berlari dibandingkan kehidupan sebelumnya.</p>
<p>Hal yang menarik dari buku ini ialah, judul buku yang dituliskannya kali ini diambil dari salah satu buku terkenal juga, yaitu <a href="/talklove">What We Talk About When We Talk About Love</a> oleh Raymond Carver. Murakami terinspirasi ingin menyampaikan ceritanya tentang berlari sama seperti bagaimana Raymond Carver menyampaikan cerita tentang cinta. Buku yang bagus.</p>
</description>
<pubDate>Wed, 14 Jun 2023 00:00:00 +0700</pubDate>
<link>https://www.harapan.me/talkrunning</link>
<guid isPermaLink="true">https://www.harapan.me/talkrunning</guid>
</item>
<item>
<title>First Person Singular: Stories</title>
<description><!-- _includes/image.html -->
<div class="image-wrapper">
<a href="/firstperson" title="First Person Singular: Stories - Oleh Haruki Murakami" target="_blank">
<img src="https://www.harapan.me/images/exlibris/firstpersonsingular.jpg" alt="First Person Singular: Stories - Oleh Haruki Murakami" style="width:350px;" class="imgjkl" />
</a>
<p class="image-caption">First Person Singular: Stories</p>
</div>
<p>First Person Singular merupakan buku kesekian dari Haruki Murakami yang kubaca, dan menjadi buku kedua dari kumpulan cerita-ceritanya setelah <a href="/menwomen">Men Without Women</a>. Pertama kali aku membaca Murakami ialah melalui bukunya <a href="/norwegianwood">Norwegian Wood</a>, sebuah cerita tentang perasaan sakit dan sedih ditinggal bunuh diri oleh orang-orang yang kita sayangi. Men Without Women sendiri merupakan kumpulan cerita tentang laki-laki yang putus asa dan kesepian. Entah mengapa Murakami selalu menulis tentang kesedihan, kemurungan namun memberikan pelajaran hidup. Begitu juga dengan buku ini, First Person Singular.</p>
<p>First Person Singular, bercerita tentang ingatan akan masa lalu, kehidupan yang telah lewat dan kemudian dikenang dalam ingatan oleh sang Narator dalam setiap ceritanya, namun seperti perjalanan kehidupan yang seolah sedang dijalaninya, seperti kebanyakan karya Murakami, surreal dan sulit untuk dijelaskan.</p>
<p>Ada satu cerita yang menjadi favoritku dalam buku ini, tentang seorang monyet yang dapat berbicara. Si monyet kemudian bekerja disebuah hotel di sebuah tempat wisata di daerah Gunma. Suatu ketika si Narator sedang berlibur Gunma dan dilayani oleh si monyet. Selain melayani Narator, mereka terlibat dalam obrolan dan saling berbagi kisah masa lalu. Si Narator yang penasaran dengan dunia luar terus mengorek-ngorek masa lalu si Monyet, mulai dari cerita mengenai keluarganya hingga bagaimana bisa hingga dia bisa bekerja di hotel tersebut. Obrolan berlanjut semakin mendalam, si Monyet bercerita tentang bagaimana rasa kesepiannya dan kisah cintanya yang selalu gagal dan tak pernah bisa mengungkapkan perasaannya kepada orang yang dia suka. Monyet merasa tidak pantas dan berpikir bahwa dia tidak layak untuk mencintai wanita (dan manusia). Monyet hanya bisa memendam perasaannya. Monyet menceritakan untuk memuaskannya dan melampiaskan perasaan cintanya, dia mencuri nama orang tersebut hingga perempuan yang dicuri namanya oleh si Monyet tidak mengingat namanya lagi. Ini bisa dilakukan si Monyet hanya dengan menggunakan barang yang berisi identitas dari orang yang ingin dicuri namanya. Si Narator berusaha mempercayainya namun sangat sulit untuk dilakukan. Hingga bertahun-tahun kemudian ketika si Narator dalam sebuah meeting dengan seorang wanita, tiba-tiba wanita tersebut lupa namanya dan dari situ Narator kembali lagi ke ingatan masa lalunya ketika bertemu si Monyet.</p>
<hr />
<p>Cerita lainnya, yang berjudul “Cream”, si Narator dalam hal ini Murakami, yang dalam masa tuanya tiba-tiba mendapat undangan konser tunggal piano dari seorang wanita dimasa mudanya, wanita yang sempat dia sukai. Dia melakukan perjalanan yang cukup jauh dari tempatnya ke suatu desa di Kobe, namun apa yang didapatnya bahwa tidak ada sama sekali keramaian yang menunjukkan akan dilaksanakannya konser disana. Dia kebingungan dan kemudian duduk disebuah taman. Dia berusaha memahami apa yang terjadi, mengapa wanita dari masa mudanya tiba-tiba datang kembali kehidupnya dan mengundangnya ke sebuah pertunjukan piano yang akan dilakukan oleh wanita tersebut, dia juga berusaha memahami, kenapa tidak ada pertunjukan piano tersebut dan alamat yang didapatnya bukan sebuah gedung pertunjukan selayaknya tempat pertunjukan pada umumnya. Dia berusaha mengerti apa yang telah dilewatinya, bukan hanya tentang kejadian yang baru saja terjadi, dipikirannya juga hadir tentang kehidupan-kehidupan yang telah dilewatinya. Banyak gejolak-gejolak batin yang terjadi didalam dirinya, hingga tiba-tiba muncul suara dari seorang lelaki tua yang berusaha mengatakan “a circle with many centres”, pikiran kita terkadang terus berusaha untuk mendapatkan suatu jawaban dari apa yang telah terjadi, mencoba mendapatkan “mengapa hal itu terjadi”, namun semakin kita mencoba mencari kita menemukan banyak sekali jawaban-jawaban yang seolah seperti lingkaran yang mempunyai banyak titik-tengah. Yang sebenarnya terjadi ialah kita tidak ada sebenarnya titik-tengah tersebut. Lingkaran tersebut ialah gejolak-gejolak yang terjadi yang berusaha kita pahami. Gejolak tersebut bisa apa saja, seperti cinta, kepercayaan kita kepada yang Maha Kuasa, kehilangan dan banyak hal lainnya. Kita tidak bisa memahaminya semua. Kepahitan yang disebabkan oleh hal-hal tersebut adalah hal alami yang terkadang tidak untuk dipahami dan dicari mengapa, apa yang kita bisa lakukan ialah tetap menjalani hidup tanpa terus mempertanyakan segala hal.</p>
</description>
<pubDate>Wed, 14 Jun 2023 00:00:00 +0700</pubDate>
<link>https://www.harapan.me/firstperson</link>
<guid isPermaLink="true">https://www.harapan.me/firstperson</guid>
</item>
<item>
<title>Re:</title>
<description><!-- _includes/image.html -->
<div class="image-wrapper">
<a href="/re" title="Re: - Oleh Maman Suherman" target="_blank">
<img src="https://www.harapan.me//images/exlibris/re.png" alt="Re: - Oleh Maman Suherman" style="width:350px;" class="imgjkl" />
</a>
<p class="image-caption">Re: </p>
</div>
<p>Pertama kali aku mengetahui tentang buku ini ketika aku menonton sebuah cuplikan video dari penulis buku ini, Maman Suherman atau yang dikenal sebagai Kang Maman. Dalam video tersebut, sang penulis menceritakan secara singkat tentang novelnya tersebut, novel yang memilukan hati, yaitu Novel Re: ini. Novel ini awalnya merupakan skripsi yang disusun oleh kang Maman pada tahun 1989 dan kemudian 25 tahun kemudian dia menulis ulang skripsinya menjadi sebuah novel.</p>
<p>Ketika aku menonton video tersebut, aku dapat merasakan kesedihan mendalam dari cerita tersebut. Cerita tentang seorang pelacur perempuan yang bernama Re: dan kehidupannya yang tertawan dalam cengkeraman seorang mucikari atau yang biasa mereka panggil mami Lani. Namun tidak hanya cerita pilu tentang kehidupan Re: saja yang disajikan oleh penulis dalam buku ini, dibeberapa bagian terselip tentang penjelasan ilmiah tentang kondisi yang dialami Re:, semisal penulis dalam bukunya menjelaskan tentang keberagaman seksualitas manusia dalam 7 gradasi, menurut buku <em>Sexual Behaviour in the Human Female</em> oleh Alfred C Kinsey. 7 Gradasi tersebut ialah,</p>
<ul>
<li>Heteroseksual eksklusif</li>
<li>Heteroseksual predominan (lebih menonjol), homoseksual hanya sekali-kali</li>
<li>Heteroseksual predominan, homoseksual lebih dari sekali-sekali</li>
<li>Heteroseksual dan homoseksual sama banyaknya</li>
<li>Homoseksual predominan, heteroseksual lebih dari sekali-sekali</li>
<li>Homoseksual predominan, heteroseksual sekali-sekali</li>
<li>Homoseksual ekslusif</li>
</ul>
<p>Dari penjelasan mengenai 7 gradasi sesksualitas manusia ini yang mendasari layanan pelacuran apa saja yang dihadirkan mami Lani dirumah pelacurannya.</p>
<p>Mami Lani mengelola rumah pelesiran di Jakarta. Rumah pelesiran itu dapat menyediakan segala jenis pelacur, mulai dari pelacur wanita untuk melayani pria, pelacur wanita untuk melayani wanita dan pelacur pria untuk melayani pria, semua lengkap. Namun Re: cuman melayani wanita atau dengan kata lain pelacur lesbi.</p>
<p>Banyak jenis pelanggan yang telah dilayani oleh Re:, mulai dari kalangan menengah hingga kalangan atas masyarakat. Ada yang istri pejabat, ada juga suami istri yang menyewa Re: hanya untuk menjadi acara pembuka dihubungan seks mereka. Diceritakan suatu ketika suami istri dari kalangan orang penting pada waktu itu menyewa Re:, tugas Re: hanya menggerayangi sang istri, menjilati, meremas dan membuatnya menjadi bergairah, sementara sang suami hanya menonton saja. Setelah sang istri bergairah, kemudian mereka berdua, sisuami dan siistri melanjutkan melakukan hubungan suami istri dan Re: cuman menonton saja sampai mereka selesai.</p>
<p>Di lain sisi, pergolakan besar dalam diri Re: mengenai hidupnya. Dia merasa dirinya sudah mati, mati tertawan oleh Mami Lani. Dia tidak punya pilihan apa-apa dalam hidup, selain terus menjalani pekerjaannya. Awal mulanya Re: terperangkap pada mami Lani ialah karena harus membayar hutang dari semua kebaikan yang telah dilakukan mami Lani. Waktu itu Re: sedang hamil, kehamilan diluar nikah. Untuk membiayai kehidupannya dan biaya untuk melahirkan mami Lani bersedia menanggungnya. Awalnya Re: mengira bahwa itu hanya karena kebaikan hati mami Lani saja, namun ternyata tidak. Setelah Re: melahirkan, semua utang-utangnya tercatat dengan lengkap ditangan mami Lani dan Re: harus membayarnya dengan bekerja pada mami Lani.</p>
<p>Tahun demi tahun Re: bekerja dengan mami Lani, dia telah mengumpulkan uang yang nilainya cukup besar dan cukup untuk membayar utang-utangnya. Alih-alih membayarnya dan bebas dari mami Lani, Re: lebih memilih untuk memberikan semua uangnya untuk anaknya, dia bertekad “cukup dirinyalah yang bekerja seperti pelacur, anaknya harus punya penghidupan yang lebih baik”. Anaknya yang bernama Melur dititipkan kepada seorang suami dan istri yang tidak mempunyai anak. Sang istri bekerja sebagai guru, sedangkan si suami berjualan beras dipasar induk. Setiap bulan Re: mengunjungi Melur. Selalu dalam setiap kunjungannya dia memberikan Melur hadiah, mainan boneka-bonekaan dan semua kebutuhan Melur. Tak lupa ia juga menitipkan sejumlah uang kepada suami istri yang mengangkat Melur sebagai anak. Hanya saja dalam setiap kunjungannya Re: hanya melihat Melur dari jauh, tidak berani mendekat, bertemu secara langsung. Bahkan ia berpesan kepada Herman, untuk menitipkan pelukan juga kepada Melur. Pelukan yang tidak ingin disampaikan langsung oleh Re: karena ia tidak ingin keringatnya sebagai pelacur menempel kebadan anaknya yang sangat dia sayangi tersebut. Anaknya harus hidup lebih baik dari ibunya. Hermanlah yang selalu menjadi perantara antara Re: dan Melur. Oiya Herman merupakan tokoh dalam novel ini yang membawakan semua cerita dalam novel ini dari sudut pandang dia.</p>
<center><iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube-nocookie.com/embed/pTbj7A0zX-k?controls=0" title="YouTube video player" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen=""></iframe></center>
</description>
<pubDate>Wed, 08 Feb 2023 00:00:00 +0700</pubDate>
<link>https://www.harapan.me/re</link>
<guid isPermaLink="true">https://www.harapan.me/re</guid>
</item>
<item>
<title>Bumi Manusia</title>
<description><!-- _includes/image.html -->
<div class="image-wrapper">
<a href="/bumimanusia" title="Bumi Manusia - Pramoedya Ananta Toer" target="_blank">
<img src="https://www.harapan.me//images/exlibris/bumi-manusia.jpg" alt="Bumi Manusia - Pramoedya Ananta Toer" style="width:350px;" class="imgjkl" />
</a>
<p class="image-caption">Bumi Manusia - Pramoedya Ananta Toer</p>
</div>
<p>Ini mungkin kali keempat atau kali kelima aku membaca novel ini. Novel yang fenomenal dan terkenal ini. Pada awalnya ketika aku membaca novel ini yang tertinggal dalam benakku ialah novel ini hanya seperti novel percintaan tragis yang mengambil later belakang dizaman penjajahan Belanda. Namun setelah membacanya lagi dan menyelesaikan seri tetraloginya, yaitu Tetralogi Pulau Buru yang terdiri dari 4 Novel ini, aku baru memahami cerita sejarah pembibitan hingga terbentuknya Nasionalisme pada awal Kebangkitan Nasional. Selain Bumi Manusia, tiga novel lainnya ialah Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca.</p>
<p>Bumi Manusia sendiri mengambil latar dimasa penjajahan Belanda, sekitar tahun 1898-1918. Diceritakan tentang kehidupan Minke, putra seorang bupati yang saat itu berkesempatan mengenyam pendidikan Belanda di H.B.S di Surabaya. Sebagai seorang yang berpendidikan pada masa itu, hobi Minke ialah tulis-menulis. Semua hal ditulisnya dalam buku catatannya. Disela-sela pendidikannya dia juga aktif untuk bekerja menjadi jurnalis dan membantu sahabatnya Jean Marais yg seorang pensiunan tentara bayaran dari Prancis, untuk menjual hasil karya pahatan furniturnya. Jean Marais inilah yang menjadi sahabat Minke yang paling setia dan orang yang menyadarkan Minke untuk tidak hanya menulis dalam bahasa Belanda, tapi seharusnya Minke menulis dalam bahasa Melayu agar orang-orang sebangsanya dapat membaca karya-karyanya juga.</p>
<blockquote>
<p>“Jadi apanya yang harus dikenal?” protesku. “Kan orang dikenal karena karyanya?” sekarang aku mulai sempat membela diri. “Ratusan juta orang di atas bumi ini tidak berkarya yang membikin mereka dikenal, maka tidak dikenal” <br />
<strong>~ Minke</strong></p>
</blockquote>
<p>Minke menjalin cinta dengan anak seorang pengusaha kaya raya di Surabaya, Annalies namanya. Gadis cantik yang dilahirkan oleh gundik pengusaha tersebut yang biasa dipanggil Nyai Ontosoroh. Singkat cerita, walaupun gundik namun dia yang mengelola semua usaha tuannya. Dia mengembangkan usaha tuannya menjadi sangat besar, meliputi peternakan dan pekerbunan. Semua dilakukan oleh Nyai Ontosoroh. Nantinya Nyai Ontosoroh jugalah yang menjadi tokoh sentral dalam perkembangan kehidupan Minke, Nyai Ontosoroh jugalah yang menjadi guru secara langsung bagi Minke dalam kehidupannya.</p>
<p>Kedekatan Minke dan Annelies membuat Minke masuk kedalam kehidupan dan permasalahan keluarga Nyai Ontosoroh. Sang Suami, Tuan Hermann Mellema ternyata masih mempunyai istri sah dan seorang anak di Belanda. Suatu ketika anak dari Tuan Mellema tersebut datang ke Surabaya menemui Ayahnya. Semenjak dari kehidupan Nyai Ontosoroh dan Annelies menjadi tidak tenang, mereka selalu dihantui oleh tuntutan anak Tuan Mellema tersebut, untuk dapat menguasai semua harta kepunyaan Tuan Mellema.</p>
<blockquote>
<p>Cerita, Nyo, selamanya tentang manusia, kehidupannya, bukan kematiannya. Ya, biar pun yang ditampilkannya itu hewan, raksasa atau dewa atau hantu. Dan tak ada yang lebih sulit dapat difahami daripada sang manusia. Itu sebabnya tak ada habis-habisnya cerita dibuat di bumi ini. Setiap hari bertambah saja. Aku sendiri tidak banyak tahu tentang ini. <br />
<strong>~ Nyai Ontosoroh</strong></p>
</blockquote>
<p>Disisi lain, kedekatan Minke dan Annelies juga membawa masalah tersendiri untuk kelanjutan sekolahnya Minke. H.B.S secara jelas tidak memperbolehkan siswanya untuk menikah selama pendidikan mereka. Dalam artian ketika ditemui seorang siswa yang menikah atau bahkan ketahuan kawin, mereka akan diminta untuk keluar dari H.B.S karena ditakutkan dapat memberikan pengaruh buruk kepada murid-murid lain. Memang Minke dan Annelies menikah setelah Minke lulus dari H.B.S, namun desas-desus tentang kedekatan Minke dan Annelies serta pilihan hidup Minke untuk tinggal dirumah Nyai Ontosoroh membuat keadaan menjadi runyam.</p>
<p>Tokoh lainnya yang mempunyai perananan sangat penting untuk Minke ialah ibunya. Ibu Minke selalu mendukung apapun keputusan Minke, termasuk menjalin kasih dengan Annelies dan berarti juga dekat dengan Nyai Ontosoroh, yang merupakan seorang gundik. Pada masa itu, status sebagai Gundik merupakan suatu kehinaan dimasyarakat. Ibunda Minke ini juga selalu mendorong dan meminta Minke untuk menjadi pria yang jantan dan bertanggung-jawab, tidak lari dari persoalan-persoalan yang dihadapinya.</p>
<blockquote>
<p>Selesaikan persoalanmu, secara baik. Kan kau masih ingat? Kalau kau sampai lari, sia-sia sekolah dan pendidikanmu, karena hanya seorang kriminil saja anakku. ……..
Jangan lari dari persoalanmu sendiri, karena itu adalah hakmu sebagai jantan. Rebut bunga kencantikan, karena mereka disediakan untuk dia yang jantan. Juga jangan jadi kriminil dalam percintaan - yang menaklukkan wanita dengan gemerincing ringgit, kilau harta dan pangkat. Lelaki belakangan ini adalah juga kriminil, sedang perempuang yang tertaklukkan hanya pelacur” <br />
<strong>~ Ibu Minke</strong></p>
</blockquote>
<blockquote>
<p>“Aku dengar dari omongan orang yang membaca koran Belanda: kau sekarang sudah jadi pujangga. Aduh Gus, mengapa kau menggubah dalam bahasa yang Bunda tak mengerti? Tulislah, Gus, kisah percintaanmu, dalam tembang nenek-moyangmu, pangkur, kinanti, durma, gambuh, megatruh, biar Bunda dan seluruh negeri menyanyikannya.” <br />
<strong>~ Ibu Minke</strong></p>
</blockquote>
<blockquote>
<p>“Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak di tempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu …. Sembah pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.” <br />
<strong>~ Minke ketika menghadap Ayahnya</strong></p>
</blockquote>
<p>Puncak dari cerita ini ialah ketika Minke dan Nyai Ontosoroh harus menghadapi pengadilan, untuk mempertahankan hak pengasuhan terhadap Annelies. Selain harta dari Tuan Mellema, hak pengasuhan terhadap anak-anak tidak sah dari Tuan Mellema dengan gundiknya Nyai Ontosoroh harus dialihkan ke Istri sah Tuan Mellema. Mereka berdua berjuang menggunakan segala kemampuan yang ada. Minke terus menulis dan menceritakan perkembangan kasusnya dikoran-koran. Tulisan-tulisannya banyak menggugah orang-orang yang membacanya. Tokoh-tokoh masyarakat datang untuk menawarkan bantuan dan segala upaya, namun semua gagal. Minke dan Nyai Ontosoroh harus menerima pengalihan hak asuh terhadap Annelies kepada istri sah Tuan Mellema. Annelies harus pergi ke Belanda, tanpa boleh disertai oleh Minke dan Nyai Ontosoroh.</p>
<blockquote>
<p>Bunda, putramu kalah. Putramu tersayang tidak lari, Bunda, bukan kriminil, biarpun tak mampu membela istri sendiri, menantumu<br />
<strong>~ Minke</strong></p>
</blockquote>
<blockquote>
<p>Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.<br />
<strong>~ Nyai Ontosoroh</strong></p>
</blockquote>
</description>
<pubDate>Sun, 29 Jan 2023 00:00:00 +0700</pubDate>
<link>https://www.harapan.me/bumimanusia</link>
<guid isPermaLink="true">https://www.harapan.me/bumimanusia</guid>
</item>
<item>
<title>Cerita dari Digul</title>
<description><!-- _includes/image.html -->
<div class="image-wrapper">
<a href="/ceritadigul" title="Cerita dari Digul" target="_blank">
<img src="https://www.harapan.me//images/posts/2022/may/IMG_4706.JPEG" alt="Cerita dari Digul" style="width:350px;" class="imgjkl" />
</a>
<p class="image-caption">Cerita dari Digul</p>
</div>
<p>Setelah sebelumnya aku menyelesaikan bacaan buku <a href="/terasing">“Terasing! Di Negeri Sendiri”</a> dari Pramoedya Ananta Toer, aku menjadi terngiang-ngiang dengan karyanya dan memutuskan untuk terus membaca bukunya yang lain. Buku ini merupakan salah satu karya lain dari Pram. Pram memang tidak menulis buku ini, tapi dia melakukan hal lain. Menyunting buku ini dan memilihkan cerita-cerita yang menjelaskan bagaimana keadaan dan kondisi di Boven Digul, sebuah kamp pembuangan yang sangat menyeramkan di Papua.</p>
<p>Pram dalam menyunting buku ini berniat untuk menghadirkan kisah-kisah langsung dari pelaku sejarah, orang-orang yang pernah dibuang/dibuang ke Digul dan tak sempat dibebaskan ke Boven Digul (Digulis dan Ex-Digulis). Selain itu dia membuat batasan bahwa tulisan-tulisan itu harus ditulis dalam Bahasa Indonesia. Pram bertekat untuk menghadirkan dan menggangkat tulisan-tulisan berbahasa Indonesia saat itu. Satu yang menjadi menarik, Pram dalam buku ini mengangkat tulisan bertema Psikologi pertama yang berbahasa Indonesia, Cerita yang berjudul “Pandu Anak Buangan”.</p>
<p>Berikut merupakan lima cerita yang terdapat dalam buku ini,</p>
<h3 id="1-rustam-digulist">1. Rustam Digulist</h3>
<p>Cerita yang pertama berlokasi di Sumatera, tepatnya di Pematang Siantar. Cerita pendek yang ringan ini mengisahkan seorang Digulist yang kehilangan kekasihnya setelah dia dibuang dan diasingkan ke Boven Digul.</p>
<p>Pertama-tama dikisahkan bahwa Rustam yang mengasihi Cindai dan berniat meminangnya. Namun, sialnya beberapa hari sebelum hari lamaran itu terjadi, Rustam ditangkap dan diputuskan untuk dibuang ke Boven Digul. Penyebabnya ialah karena dia tergabung dengan Partai Kumunis Indonesia, ya memang tidak salah ketik, tertulis dibukunya memang kuminis, bahasa yang digunakan bahasa melayu lama, namun dengan Ejaan yang telah disempurnakan.</p>
<p>Rustam tidak hanya tergabung dalam PKI, tapi juga punya peran penting dikampungnya. Alasan yang menyebabkan dia tertangkap ialah dia mengadakan rapat propaganda dirumahnya dan ini diketahui oleh musuhnya Borsthaar seorang pengawas di perkebunan tempat Rustam bekerja. Saat itu juga, ketika rapat propaganda sedang berlangsung, Rustam ditangkap, dibawah ke Medan lalu dijatuhi hukuman harus dibuang ke Boven Digul.</p>
<p>Singkat cerita, bertahun-tahun kemudian, Rustam menjadi salah satu orang yang dibebaskan. Musababnya ialah kamp pembuangan Boven Digul tersebut menghabiskan anggaran yang cukup besar. Maka diputuskanlah, orang-orang yang dianggap tidak terlalu berpengaruh/bermasalah dapat dipulangkan.</p>
<p>Sepulangnya dari Digul, kehidupan Rustam berubah drastis. Seumur hidupnya kemudian, dia mendapat cap ex-Digulist dan seolah derajatnya tidak sama dengan masyarakat lain. Karena cap ex-Digulist inilah, lamarannya ditolak oleh keluarga Cindai. Keluarga Cindai beranggapan derajat Rustam terlalu jauh dibawah keluarga mereka.</p>
<p>Tak putus asa dan juga atas ikatan cinta mereka yang kuat, Rustam dan Cindai kabur ke Sipirok tempat pamannya Rustam, lalu kawin disana. Tanpa pesta, adat dan keluarga dari pihak Cindai dengan kata lain kawin lari. Dan setelah menikah mereka berniat untuk menetap di Sipirok.</p>
<p>Akhir cerita ini tidak indah seperti yang diharapkan. Kurang dari dua minggu kemudian, pihak keluarga Cindai mengirim utusan untuk memanggil Cindai dan Rustam pulang ke Pematang Siantar dan akan diadakan kenduri kecil di Rumah Cindai, tanda bahwa keluarga Cindai telah menyetujui perkawinan mereka. Namun, itu semua bohong. Ketika hari kenduri berlangsung, setelah Doa dan perjamuan makan, ayah Cindai membuka pembicaraan, dia memulai berpidato dan menyampaikan bahwa tujuan dari kenduri ini yang sebenarnya ialah untuk menceraikan Rustam dan Cindai. Perselisihan terjadi, antara Cindai dengan ayahnya, agar mereka tidak diceraikan. Begitu juga antara keluarga dari Rustam dan keluarga dari Cindai yang berusaha untuk meminta agar pernikahan ini tetap berlangsung. Buntu, tidak ada kata sepakat antara kedua belah pihak. Pengadilanlah kemudian yang harus memutuskan. Namun, tragisnya ketika hari pengadilan berlangsung Cindai tidak dapat berkata apa-apa selain tidak, termasuk ketika hakim bertanya, “Apakah betul ia cinta kepada laki-laki yang melarikannya itu ke Sipirok?”</p>
<hr />
<h3 id="2-darah-dan-air-mata-di-boven-digul">2. Darah dan Air Mata di Boven Digul</h3>
<p>Cerita kedua ini merupakan sebuah roman percintaan yang latar belakangnya perjalanan para tahanan yang akan memulai hidupnya di Boven Digul. Mereka sedang melalui perjalanan laut menuju Boven Digul. Mereka datang dari berbagai latar belakang, tidak hanya akar rumput yaitu petani, buruh dan kalangan kelas bawah, kaum yang banyak tertarik perhatiannya untuk bergabung dalam gerakan Communist, tapi juga terdapat saudagar dan bangsawan didalam mereka. Tidak hanya orang yang dari darah dan hatinya sudah Communist, tapi juga orang yang menjadi Communist karena dorongan lain seperti untuk mengejar cinta. Seperti Margono salah satu karakter dalam cerita tersebut, seorang anak bangsawan yang hidup berkecukupan kemudian terpaksa menjadi Communist, melakukan propaganda, menyenggol penguasa agar dapat ditandai dan kemudian dapat dibuang ke Boven Digul untuk mengejar kekasih hatinya, Aminah, yang mengikuti orang tuanya ketanah buangan.</p>
<p>Kisah Margono merupakan kisah utama dari cerita ini. Tentunya kisah tersebut dibumbui dengan drama disepanjang perjalanannya, tidak hanya drama tentang perjuangan cinta dan kepedihan Margono tersebut, namun juga kisah pribadi dari setiap tokohnya dalam interaksi mereka selama perjalanan laut menuju Boven Digul dan sepanjang memulai hidup baru di tanah buangan tersebut.</p>
<p>Dalam perjalanan yang menjemukan tersebut, hanya laut yang mereka temui disepanjang mata memandang. Hidup diantara sesama orang buangan, kontan banyak interaksi dan dialog yang terjadi diantara mereka. Margono menjadi pusat perhatian dengan berani dia berorasi untuk menguatkan sesama mereka dikapal tersebut yang sedang menghadapi kehidupan kedepan yang tidak menentu. Semua dari mereka membayangkan akan menghadapi kehidupan baru ditempat yang mereka ketahui sebagai tanah buangan yang dijadikan tempat untuk mentawan orang-orang yang dianggap berbahaya dan meresahkan pemerintah. Kehidupan terpenjara dari dunia luar ditengah-tengah hutan belantara Papua yang belum terjamah. Berbatasan langsung dengan sungai yang dalam disatu sisinya dan hutan yang luas yang menjadi tempat tinggal tidak hanya kehidupan rimba namun juga suku asli Papua yang saat itu belum berinteraksi dengan dunia luar. Nyawa adalah pertaruhannya jika memaksa untuk kabur dari situ.</p>
<blockquote>
<p>“Ya, kita berduka lantaran kita bakalan pergi kesuatu tempat yang kita belum tahu keada’annya, dan terutama lantaran kita merasa diri kita ini menjalankan hukuman, dibuang, tidak merdeka, tidak boleh balik ketempat sendiri buat melihat pula itu segala apa yang kita cinta di sana.<br />
.<br />
.<br />
Boven Digul yang kita tuju sebenarnya ada satu surga buat kita, yang menjadi communist lantaran susahnya penghidupan, karena di sana apa segala yang kita perlu buat hidup ada tersedia, disediakan pemerintah, dan kita juga merdeka buat lakukan segala apa yang menjadi keinginan hati.”</p>
</blockquote>
<p>Begitulah penggalan orasi yang disampaikan Margono, akibat dari orasi tersebut semua orang tahu Margono dan ingin dekat-dekat dengannya untuk sekedar berkenalan hingga bertukar-pikiran. Beberapa diantara mereka ialah Haji Barmawi, seorang yang kaya raya dan terpandang dikampung. Sebuah pertanyaan besar kenapa Haji Barmawi yang kaya raya tersebut ikut bergabung menjadi Communist, apa yang sebenarnya diperjuangkannya? Orang-orang lainnya yang terlibat dalam diskusi mendalam dengan Margono sepanjang perjalanan mereka ialah pasangan suami istri, Sugiri dan Mariyah. Sugiri juga merupakan anak dari orang kaya raya dikampungnya, semasa muda dia tergabung dalam gerakan Communist karena pengaruh teman-temannya. Sedangkan Mariyah hanya mengikuti suaminya. Atas desakan mertuanya, ayah dan ibu dari Sugiri, Mariyah akhirnya ikut juga dengan suaminya ketanah buangan tersebut.</p>
<p>Dialog yang terjadi antar mereka berputar disekitaran tentang perjalanan hidup mereka, mulai dari mengapa mereka bisa mengikuti paham Communist hingga apakah mereka takut menjalani hidup kedepannya. Haji Barmawi yang menjadi panutan dan tetua diantara mereka mempunyai jiwa yang kuat, semakin dekat kapal ketempat tujuannya, semakin senang dia. Sama seperti Margono sebelumnya yang juga tidak memandang bahwa kehidupan kedepan yang bakalan mereka hadapi akan menjadi derita. Haji Barmawi yang merupakan seorang yang telah menunaikan ibadah Haji dari hanya sedikit orang yang mampu menunaikan kewajiban agama tersebut secara ekstrem berbalik menjadi Communist dan memusuhi agama. Sebabnya ialah karena dia selama hidupnya kerjaannya cuman menghambur-hamburkan uang, menyia-nyiakan istrinya yang setia dengan kawin lagi hingga dua kali. Sialnya istri kedua dan ketiganya tidak mencintainya sama sekali, malahan menyeleweng dibelakangnya. Dia seolah disadarkan bahwa selama ini dia hanya menindas orang lain dan menggunakan agama hanya untuk memuaskan nafsunya. Tidak ada orang yang benar-benar mencintainya dengan tulus selain istri pertama yang disia-siakannya, orang-orang senang didekatnya karena uang dan kuasa yang dimilikinya, termasuk dua istri lainnya yang kawin dengannya tidak dengan perasaan cinta.</p>
<p>Dialektika yang terjadi dalam cerita ini sungguh menarik, sisipan-sisipan dalam setiap obrolan dari tokoh-tokoh ini sedikit banyak menjelaskan bagaimana Communist pada saat itu menjadi ideologi untuk memperjuangkan kesetaraan kekayaan dimasyarakat. Tapi pada faktanya communist cuman berkembang dikalangan bawah dengan iming-iming kehidupan yang lebih baik kepada mereka karena terjadinya sistem tanpa kelas dimasyarakat serta alat produksi dimiliki oleh bersama dan diatur oleh negara. Dengan ini jadi memungkinkan tidak terjadinya jarak yang lebar antara simiskin dan sikaya karena terjadi keseimbangan sosial masyarakat dalam hidup tanpa perbedaan kelas dan kepemilikan properti secara pribadi.</p>
<p>Namun pada akhirnya ideologi communist menjadi tidak relevan karena pada kenyataannya mereka yang lebih rajin atau mereka yang kuat berjuang dalam mencari penghidupan tidak mau berbagi dengan mereka yang malas. Haji Barmawi menjelaskan hal tersebut dalam dialognya dengan Margono, Subari, Mariyah dan orang-orang lain dalam sebuah diskusi di dok kapal saat itu. Aku mengakui bahwa penulis cerita ini sangat cerdas dalam menyampaikan makna-makna mendalam dari satu pemikiran yang dipahaminya.</p>
<p>Balik ke inti cerita percintaan Margono. Puncak konflik dari cerita ini dimulai ketika Margono yang menjadi komunis itu demi mengejar cintanya hingga ke Boven Digul menemukan Aminah saat itu telah dinikahkan oleh orang tuanya dengan Mardisaputro. Margono kecewa berat dan hampir menyesali semua tindakan bodoh yang dilakukannya ini. Aminah pun begitu, menyesal telah tidak percaya terhadap Margono yang akan menepati janjinya untuk menyusul Aminah ke Boven Digul. Ingat sebelumnya bahwa Margono itu anak bangsawan, sehingga tidak mungkin bagi Margono ikut terlibat dalam gerakan communist ini untuk memperjuangkannya, pikir Aminah saat itu.</p>
<p>Rekonsiliasi terjadi pada diri Margono, Ia memulai hidup baru ditanah buangan dan berusaha menerima kenyataan pahit tersebut. Begitu juga dengan yang lainnya, termasuk Aminah yang telah lebih dahulu tiba di Boven Digul. Dia tinggal bersama suaminya Mardisaputro disatu rumah, berdekatan dengan rumah orang tua Aminah.</p>
<p>Setiap orang disitu berusaha mendapatkan penghidupan yang lebih baik, bertani, berkebun, beternak. Perlahan-lahan terbentuklah kampung-kampung dan dilengkapi semua fasilitasnya, ada listrik, rumah sakit, kantor pemerintahan. Sungai Digul menjadi pusat kehidupan disitu. Masyarakat menggunakannya untuk mengambil air bersih, mengairi sawahnya, mencuci pakaiannya disitu juga. Suatu saat ketika ibu-ibu sedang mencuci pakaian disungai itu, mereka mendapati bahwa sungai tersebut airnya berubah menjadi merah, seperti bercampur darah.</p>
<p>Para pria dikampung tersebut menelusuri sumber warna itu dari mana, hingga mereka menemukan mayat pria tidak jauh dari tempat ibu-ibu tersebut mencuci. Mayat Mardisaputro, suami dari Aminah. Usut punya usut kehidupan Mardisaputro berlangsung dengan suram. Bukan hanya karena penderitaan karena ditanah buangan tersebut, harus bekerja secara paksa untuk membangun Boven Digul menjadi kamp yang dapat menampung ribuan orang buangan tersebut, menghadapi kenyataan bahwa kemerdekaan mereka dikekang, menghadapi wabah Malaria yang mematikan disana dan kesusahan-kesusahan hidup lainnya. Penderitaan Mardisaputro ditambah dengan kenyataan bahwa istrinya tidak benar-benar mencintainya, terlebih setelah kedatangan Margono. Amirah dan Margono dalam banyak kesempatan curi-curi waktu untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Kelakuan mereka berdua tersebut terus-terusan terjadi dibelakang Mardisaputro.</p>
<p>Sebelum mengakhiri hidupnya dengan menusukkan sebuah pisau keperutnya sendiri, Mardisaputro mendapati sebuah surat kaleng yang dari orang yang mengaku sahabatnya. Surat tersebut menyebutkan perlakuan istrinya yang menyeleweng. Perseteruan terjadi antara Mardisaputro dan Amirah. Amarahnya tidak terbendung ketika Mardisaputro juga mendapati pengakuan dari mulut Amirah langsung. Namun perasaan sayangnya terhadap Amirah mengalahkan marah tersebut. Mardisaputro mengalah dan merelakan Amirah. Mardisaputro harus pergi.</p>
<p>Cerita tersebut ditutup dengan kegamangan Margono dan Amirah mendapati pengorbanan Mardisaputro tersebut. Mereka melanjutkan hidup, menerima pengorbanan Mardisaputro tersebut dan hidup berdua sebagai sepasang suami istri yang direstui oleh orangtua Amirah kemudian. Begitu juga dengan Sugiri dan Mariyah serta orang-orang lainnya. Kisah ini berakhir dengan mereka yang berusaha bahagia ditanah buangan itu.</p>
<hr />
<h3 id="3-pandu-anak-buangan">3. Pandu Anak Buangan</h3>
<p>Lagi-lagi cerita ini tentang cerita cinta. Namun kali ini tentang kepahitan karena patah hati dari seorang buangan di Boven Digul. Begitulah inti dari cerita <strong>Pandu Anak Buangan</strong> ini. Awal mulanya, Pandu seorang anak dari pasangan suami istri dari kelas bawah di Madiun diminta oleh orang tuanya untuk bekerja di kantor Wedana, kantor pemerintahan setingkat distrik di Madiun. Pekerjaannyapun cuman sebagai anak magang tidak dibayar. Ayah Pandu yang cukup berpikiran maju, ingin anaknya tidak cuman menghabiskan masa mudanya dengan main-main. Setidaknya walaupun bekerja tidak dibayar, Pandu tidak kelayapan kesana kemari.</p>
<p>Bekerja di kantor Wedana saat itu cukup terhormat dikalangan masyarakat. Karena memang ada harapan bahwa pegawai-pegawai rendahan itu atau bahkan pegawai magang yang tidak dibayar tersebut suatu saat nanti dapat berkesempatan berubah nasibnya menjadi priyayi, orang yang berstatus sosial tinggi dimasyarakat hanya karena mereka menjadi kacung-kacung Kolonial dikantor pemerintahan. Terbukti posisi Pandu dipandang tinggi oleh salah seorang juru tulis dikantor asistent Wedana tersebut, dia menginginkan Pandu untuk menjadi menantunya. Dia berencana menikahkan Pandu dengan anak perempuannya. Tidak hanya sampai disitu, ayah mertua Pandu ini bahkan bersedia membiayai rumah tangga menantu dan anaknya, mengingat Pandu yang saat itu masih menjadi pegawai magang yang tidak dibayar.</p>
<p>Setelah menikah, kehidupan Pandu juga membaik, akhirnya dia mendapat gaji seringgit setiap bulannya. Selain bekerja, Pandu juga terlibat aktif dalam dalam pergerakan Serikat Islam Semarang atau Sarikat Islam merah. Pandu terlibat dalam gerakan ini karena ayahnya juga simpatisan Perhimpunan Sarikat Islam, awal mulanya Pandu banyak berinteraksi dengan orang-orang Serikat Islam yang menginap dirumahnya yang sedang melancarkan propagandis mereka di Madiun.</p>
<p>Mertuanya Pandu yang orang pemerintahan tulen, walau hanya seorang juru tulis dari Asisten Wedana tidak setuju dengan kegiatan Pandu. Berulang kali dia menasehati Pandu supaya keluar dari pergerakan organisasi itu. Namun, Pandu tetap berkeras dan semakin menjadi. Singkat cerita mertuanya memaksa mereka untuk cerai dan tidak mengizinkan bung Pandu ini untuk bertemu istrinya lagi. Ini membuat pergerakan bung Pandu semakin menjadi. Dia juga bertemu wanita baru yang mengisi hidupnya, namanya Zus Emi. Dalam pergerakannya bersama Partai Komunis, bung Pandu menikahi Zus Emi. Namun tidak sempat lama mereka bersatu, mereka harus berpisah karena Pandu dipenjara. Dan kemudian Pandu harus dibuang ke Boven Digul.</p>
<p>Tidak menjadi perkara besar bagi Pandu untuk dibuang ke Boven Digul, karena dia tahu istrinya akan ikut dengannya bersama ke Boven Digul. Dengan begitu yakin, Pandu menerima hukuman tersebut. Membayangkan setidaknya hukuman buangan tidak akan menjadi buruk, karena ada istrinya yang akan menemaninya. Namun semua apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang dibayangkan. Ternyata Zus Emi, istrinya bung Pandu tidak jadi ikut ke Boven Digul. Ketika kapal yang membawa Pandu ke Boven Digul merapat ke pelabuhan dan saat-saat para tahanan bisa naik kekapal dan menemui penumpang lainnya yang merupakan kerabat yang turut juga didalam kapal tersebut, disaat itulah Pandu menyadari bahwa istrinya tidak ikut menumpang kapal tersebut seperti yang dijanjikan dalam surat-suratnya saat Pandu masih ditahanan.</p>
<p>Cerita di pengasingan menjadi pengalaman yang berbeda sama sekali bagi Pandu, putus cinta, patah arang membuat Pandu menjalani hari-harinya di Boven Digul menjadi penuh dengan penderitaan. Dia menyendiri dan tidak suka berkumpul-kumpul dengan teman-temannya yang lain. Dia juga menjauh dari wanita dan tidak mau berinteraksi sama sekali dengan para wanita. Dia menganggap bahwa wanita itu makhluk jahat yang telah mematahkan hatinya dua kali.</p>
<h4 id="pandu-kabur-dari-digul">Pandu Kabur dari Digul</h4>
<p>Hidup menderita di Boven Digul membuat Pandu dan kawan-kawannya berpikir untuk kabur dari Boven Digul. Mereka merencanakan dan mempersiapkan diri mereka untuk kabur. Ketika semua persiapan sudah matang dan semua perlengkapan kebutuhan dan perbekalan yang sekiranya mereka butuhkan diperjalanan telah lengkap, mereka pergi diam-diam. Dari sinilah cerita babak baru kehidupan bung Pandu dimulai. Perjalanan kelompok ini untuk selamat keluar dari Boven Digul sungguh menyedihkan, banyak tantangan dan bencana yang mereka lalui. Hutan Papua yang lebat, sungai-sungai yang dalam dan berawa, tidak adanya makanan, wabah malaria yang mematikan serta bertemu dengan penduduk asli Papua, suku Kayakaya.</p>
<p>Suatu ketika setelah belasan hari didalam hutan, bung Pandu yang malang terserang malaria. Karena tidak mampu lagi berjalan dan dirasa bahwa tidak ada harapan lagi bung Pandu untuk selamat, teman-temannya yang 4 orang ini meninggalkan bung Pandu ditengah hutan sendirian, dengan sedikit saja perbekalan. Pandu berusaha bertahan hidup sebisanya, ketika haus dia merangkak-rangkak mencari air disekitarnya. Ketika lapar dia makan dari bekal yang ada. Saat itu ketika Pandu sudah tidak mampu lagi bergerak sehingga dia memutuskan hanya tiduran, sekelompok orang Kayakaya menemukan dia. Dengan pasrah, Pandu tidak berbuat apa-apa dan menyerahkan diri begitu saja. Mereka tidak banyak berkomunikasi karena tidak saling mengerti bahasa satu sama lain.</p>
<p>Oleh orang Kayakaya ini, Pandu dibawa kekampung mereka, dirawat hingga sembuh. Suku Kayakaya ini akan mengantarkan Pandu pulang kembali ke Boven Digul dan berharap mendapat balasan kebaikan dari masyarakat di perkampungan Boven Digul karena telah mengantar Pandu pulang kembali dengan selamat. Setidaknya mereka berharap akan mendapat buah tangan yang bisa dibawa pulang ke kampung Kayakaya, seperti pakaian, peralatan, rokok dan lainnya. Namun, Pandu yang sudah bersusah payah kabur, jelas tidak ingin balik lagi ke Boven Digul. Dia berpikir berbagai cara agar tetap tinggal di perkampungan suku Kayakaya ini. Dia mengajari suku Kayakaya berbagai pengetahuan praktis, mulai dari membuat sapu, membuat tampi dan berbagai peralatan anyaman lainnya dari bambu. Suku Kayakaya mulai menyukai Pandu dan selalu ketika ada satu masalah mereka datang ke Pandu. Suatu ketika wanita tercantik dikampung itu tiba-tiba sakit, segala tabib dan orang pintar telah berusaha untuk menyembuhkan wanita ini. Namun tidak ada yang berhasil, kemudian dibawalah wanita ini ke Pandu dan secara menakjubkan wanita ini dapat sembuh, tentunya dengan perlahan-lahan. Usut punya usut ternyata wanita ini patah hati karena pernah ditolak cintanya oleh Pandu dan tentu saja ketika dibawa ke Pandu, dia mengetahui obat yang paling mujarab menyembuhkan wanita ini.</p>
<p>Melihat hal itu, raja suku Kayakaya memutuskan menikahkan Pandu dan wanita itu, Pandu tidak bisa menolak, karena dia masih ingin tetap tinggal di kampung itu. Seandainya dia juga menolak tentu raja akan sangat marah dan bisa jadi tidak lagi mengusir Pandu, tapi membunuhnya. Mau tak mau Pandu menurutinya.</p>
<p>Setelah satu setengah tahun dia berada di Perkampungan suku Kayakaya dan 6 bulan dia menikah dengan Wanita dari suku Kayakaya, hari itu datang juga, ketika tentara sampai ke perkampungan tersebut. Tidak ada niatan sebenarnya tentara itu untuk mengganggu, mereka hanya lewat dan kemudian singgah ke perkampungan itu. Mereka memeriksa perkampungan itu dan mendapati satu orang yang berbeda dari suku Kayakaya lainnya, rambutnya tidak keriting. Ya tentu saja itu Pandu, walau sudah lama tinggal dengan suku Kayakaya dan mengikuti hidupnya suku Kayakaya dengan tidak berpakaian, tetap saja Pandu kelihatan berbeda.</p>
<p>Akhirnya Pandu ditangkap dan dia dikembalikan ke Boven Digul. Proses penangkapannya sempat berlangsung ricuh, karena istrinya Pandu yang sekarang ini memberontak dan meminta raja untuk mencegah tentara itu untuk membawa Pandu. Namun apa daya, dengan tangisan dan kesedihan si Okini, nama istri Pandu yang sekarang ini melepaskan kepergian Pandu.</p>
<p>Setelah sekian lama Pandu balik ke Boven Digul, Okini dan beberapa orang-orang Kayakaya lainnya datang ke Boven Digul. Mereka bermaksud untuk bertemu Pandu dan mempertemukannya kepada Okini dan anaknya. Namun ketika orang-orang Kayakaya menemui Pandu, dia tidak mengakui kalau dia pernah menikah dengan seorang wanita suku Kayakaya. Dia juga tidak mengakui anaknya. Dengan perasaan sedih Okini dan orang Kayakaya yang datang ke Boven Digul ini pulang kembali kekampungnya.</p>
<p>Pada awalnya semua kembali seperti biasa tidak ada yang peduli kejadian itu lagi setelah Okini dan orang Kayakaya tersebut balik kehutan. Namun semakin lama semakin tersebarlah cerita tentang kejadian yang sebenarnya ke seantero penduduk Boven Digul bahwa ternyata Okini, perempuan Kayakaya yang sempat datang ke Boven Digul beserta dengan anak bayi dalam gendongannya tersebut merupakan istri dan anak kandung dari Pandu. Sejak mengetahui kejadian yang sebenarnya tersebut, banyak orang yang mengejek Pandu dengan sebutan celeng (babi hutan), setiap dia berjalan entah kemana, orang selalu memanggilnya dengan sebutan itu.</p>
<p>Cerita ini berakhir menyedihkan, tak tahan dengan hukuman sosial yang diberikan oleh warga tersebut, Pandu bermaksud datang ke kampung Kayakaya berniat mengambil istri dan anaknya lagi. Namun belum sempat dia melakukan niatnya tersebut, dia mengetahui kebenaran yang sebenar-benarnya dari salah seorang orang Kayakaya tentang nasib istrinya. Orang Kayakaya ini bercerita kepadanya bahwa istrinya telah meninggal dunia terkena penyakit jantung karena mencintai seseorang pria namun cintanya merasa tidak dihargai. Begitu juga anaknya, mati terlebih dahulu karena mendapat asupan susu dari ibunya yang sakit-sakitan.</p>
<h3 id="4-antara-hidup-dan-mati-atau-buron-dari-boven-digul">4. Antara hidup dan Mati atau Buron dari Boven Digul</h3>
<p>Cerita selanjutnya ini berkutat tentang perjuangan sekelompok orang buangan yang berusaha kabur dari Boven Digul. Tersebutlah orang-orang buangan itu Sujito, Kamlin, Rusman, Suwirjo</p>
<p>Ada berbagai macam motivasi mereka untuk kabur dari Boven Digul, salah satunya Sujito yang mempunyai motivasi untuk pulang ke Semarang, ingin kembali bersama istrinya Rusmini yang sialnya telah menikah kembali karena kebutuhan untuk membiayai anak-anak mereka. Memang tidak ada motivasi yang lebih kuat selain cinta, merebut kembali cintanya. Mereka yang lain tentu punya beragam motivasi, tapi bisa disimpulkan mereka semua ingin bebas dari tanah buangan ini.</p>
<p>Mereka sudah mempunyai rencana matang untuk kabur dari Boven Digul. Mulai dari rute yang akan dilalui, kemana arah dan tujuan, semua perlengkapan serta tekad. Semua sudah mereka persiapkan. Mereka berencana membelah lebatnya hutan Papua, menyusuri sungai Fly dan kemudian kabur ke daerah Papua lainnya yaitu Nieuw-Guinea yang dijajah Inggris. Mereka telah memikirkan matang-matang strategi ketika memasuki daerah kekuasaan Inggris nanti, bila tiba, mereka akan membiarkan diri mereka ditangkap, membiarkan diri mereka dipenjara yang selama-lama-nya paling cuman sekitar 6 bulan dan setelah selesai mereka akan dapat passport Inggris, kemudian bebas. Itu dalam angan-angan mereka.</p>
<p>Pada suatu malam, tepat pukul 12 mereka memulai perjalanan mereka. Menyusuri hutan menjauh dari perkampungan, agar mereka tidak bertemu penjaga. Mereka menuju sungai Digul, untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan perahu mengarungi sungai itu. Disinilah petualangan mereka dimulai, dengan menggunakan perahu mereka berharap dapat lebih cepat sampai ke muara sungai dan bisa menyeberang ke daerah jajahan Inggris sesuai rencana mereka. Sujito yang menjadi komandan mereka, juga merangkap jadi juru mudi perahu tersebut yang lain pelan-pelan mengkayuh, bergantian. Tidak terlalu susah memang karena mereka mengarungi sungai searah arus.</p>
<p>Semalam telah mereka lalui, pagi itu dilalui dengan tenang tanpa berhenti dengan harapan mereka dapat mencapai muara sungai Uwinmerah dengan segera. Namun perjalanan tidak semudah itu. Siang itu mereka bertemu dengan seekor buaya, berusaha menyelamatkan diri dengan melompat ke pinggir sungai dan langsung kedaratan, tapi mereka harus kehilangan perbekalan mereka, tenggelam kesungai. Masih shock dengan kejadian yang baru mereka lalui, mereka memutuskan untuk berkemah terlebih dahulu. Berbagi tugas, ada yang membuat perapian, ada yang membuat kemah dan ada yang pergi memancing. Beruntung mereka dapat bekal tambahan dari memancing. Setelah kenyang mereka melanjutkan perjalanan, namun kali ini mereka merubah strategi, harus ada orang yang berjaga dan mengendalikan perahu. Karena sebelumnya, mereka lalai sehingga ketika ketemu buaya mereka tidak siap. Setiap dua jam digilir waktu berjaga. Setiap waktu jaga harus ada 2 orang yang baugn dan berjaga.</p>
<p>Lepas dari buaya, salah satu dari kawanan yang kabur ini yaitu Suwirjo menderita demam tinggi. Mengetahui Suwirjo demam, dia diletakkan ditengah perahu dan tidak ikut mendayung. Dia diberi tablet obat Malaria. Apa yang dialami Suwirjo merupakan ciri-ciri Malaria, demam tinggi, keringatan, pusing-pusing, pinggang pegal dan tidak selera makan. Teman-temannya berusaha merawat agar kondisi Suwirjo membaik, mereka memutuskan beristirahat dan membuat makanan. Nasib baik mereka menemukan bekas sarang kura-kura dan mendapatkan telur kura-kura yang lezat untuk disantap. Setelah melepas penat dan makan, mereka melanjutkan kembali perjalanan, tetap Suwirjo yang masih sakit mendapatkan perawatan dan tidak ikut mendayung. Saat itu kondisi Suwirjo makin parah, demamnya makin tinggi. Satu gejala yang paling menyeramkan yang dihadapi orang yang menghidap malaria, ialah kencingnya hitam dan saat itu Suwirjo sudah mengalaminya. Mereka yang paham kondisi ini, mengetahui bahwa kondisi Suwirjo tidak bakalan bertahan lebih lama lagi. Segala daya upaya telah dikerahkan untuk merawat Suwirjo, memberinya makan, susu dan tablet pil anti malaria, namun Suwirjo akhirnya lewat, sampai disitu.</p>
<p>Sisa 6 orang dari kelompok pelarian itu. Sudah 4 hari pelarian mereka, sudah dua bencana yang mereka hadapi dan memakan satu korban teman mereka. Namun mereka masih harus melanjutkan perjalanan. Dalam diam perahu mereka membelah sungai, mengikuti arus. Pancing dilempar untuk hiburan, riak-riak yang dibuatnya sesekali memalingkan hati mereka yang sedih. Beberapa jam berlalu dengan sekian banyak ikan yang mereka dapat, mereka menyadari bahwa terjadi perubahan air sungai, menjadi lebih keruh. Awalnya mereka mengira bahwa mereka sudah dekat ke hilir, namun salah, perubahan air yang sangat cepat bukan karena posisi mereka sudah mendekati hilir, melainkan air sungai berbondong-bondong bergerak dari atas. Banjir.</p>
<p>Namun telat, begitu mereka telah menyadari apa yang mereka akan hadapi, mereka sudah hanyut kebagian sungai yang pinggir-pinggirnya rawa-rawa, berlumpur dan dalam. Mereka tidak bisa menemukan daratan yang kering yang bisa mereka gunakan untuk melabuhkan perahu mereka. Terpaksa mereka harus menghadapi banjir itu, dengan segala benda yang hanyut didalamnya, batang kayu, sampah, ranting dan lain sebagainya. Sujito yang menahkodai perahu tersebut, berusaha menghindar kayu-kayu besar yang ikut terhanyut banjir. Belok kekiri dan kekanan, hingga akhirnya satu kayu besar tidak bisa dihindari mereka membuat perahu mereka terguling. Semua barang mereka diperahu hanyut, begitu juga dengan semua penumpangnya. Sujito dan dua kawannya waktu itu sudah berada diatas perahu kembali dan bisa mengendalikan keadaan. Satu orang lagi tenggelam terbawa arus menuju hilir. Mereka yang sudah diperahu segera mengambil tali yang masih tersisa dan menyelamatkan teman mereka yang hanyut. Tali tersebut dapat menjangkaunya dan perlahan-lahan mereka dapat menaikkan teman mereka ke perahu. Dua lagi? Entahlah mungkin sudah terbawa arus. Barang-barang yang tersisa cuman 6 kaleng kecil beras dan beberapa tembakau serta kompas. Mereka segera menepi dan menenangkan diri. Dengan apa yang ada saat itu mereka memasak makanan, sementara Sujito dan seorang lainnya pergi ke perahu untuk menyelamatkan Kamlin. Dari tempat mereka memasak mereka dapat mendengar suara minta pertolongan dari Kamlin yang mungkin sedang hanyut sambil menjauh terbawa arus.</p>
<p>Beruntung Kamlin selamat, namun satu lagi teman mereka tidak diketahui nasibnya. Sisalah mereka berlima dalam pelarian tersebut. Mereka melanjutkan perjalanan disiang hari, karena ketika malam, mereka takut tidak bisa melihat apa-apa. Mungkin saja akan banjir lagi. Berjam-jam mereka mengarungi sungai, sampailah mereka ke salah satu kampung suku Kayakaya. Mereka turun dari perahu dan menemui orang Kayakaya yang berjaga diluar rumah mereka. Dengan bahasa seadanya mereka berucap Kaimo, Kaimo yang artinya baik. Menandakan maksud mereka berlima datang tidak dengan maksud jahat. Beruntung mereka kenal dengan salah seorang dari mereka, Komorok namanya. Dia pernah datang ke Boven Digul untuk berkunjung. Mereka berlima dijamu oleh suku Kayakaya diberi makan dan diperbolehkan menginap. Sujito juga bertanya kepada komorok berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai sungai Fly? Komorok menjelaskan dengan bahasa isyarat bahwa untuk mencapai sungai Fly mereka butuh waktu hingga 5 hari. Semua terdiam, mengingat lama waktu yang dibutuhkan untuk hanya sekedar mencapai sungai Fly.</p>
<p>Suku Kayakaya menyambut mereka dengan baik, mereka mengadakan pesta kecil untuk menghormati tamu mereka yang sudah berbaik hati memberikan rokok dan barang-barang kepada mereka. Sujito sejak awal telah memberikan sisa-sisa dari kepunyaan mereka, rokok dan pakaian-pakaian lainnya. Kenyang dengan jamuan tersebut, mereka tidur dan menginap di perkampungan Kayakaya tersebut. Diantara mereka berlima tidak ada yang nyenyak tidur, karena ketakutan terhadap nasib yang akan dihadapi. Mereka takut kalau besok pagi mereka akan dibunuh oleh suku tersebut. Sebelumnya mereka telah mendengar selentingan bahwa ada sekelompok suku Kayakaya yang suka membunuh dan memakan manusia. Karena tidak tenang malam itu, mereka memutuskan untuk kabur dari kampung Kayakaya tersebut, berusaha menyelamatkan diri. Namun sial dalam usaha mereka untuk kabur, dua teman mereka terpanah dan tertangkap. Sehingga sisalah mereka bertiga Sujito, Rusman dan Kamlin. Dengan tenaga yang tersisa, mereka terus berjalan menjauh. Banyak rintangan lagi yang mereka lalui setelah itu, mereka sempat bertemu ular besar yang hampir saja melilit salah satu dari mereka. Beruntung dua lainnya dalam sekejap melompat dan membunuh ular tersebut. Langsung saja mereka bakar dan santap ular tersebut. Mereka juga dapat mencapai sungai Fly dan mengarunginya, hingga mereka dapat mencapai hilir sungai Fly, daerah jajahan Inggris.</p>
<p>Sesuai rencana mereka mencoba masuk ke perkebunan disitu. Mereka ditangkap oleh pemilik kebun, namun mereka tidak disiksa. Keesokan harinya mereka diserahkan kepemerintah Inggris dan dipenjara. Itu sesuai dengan rencana mereka. Dalam hati mereka cuman 6 bulan penjara dan kemudian mereka akan mendapatkan passport Inggris. Namun tidak berapa lama dalam penantian mereka dipenjara, diminggu kedua, mereka dibawa keluar sel, namun bukan kebebasan dan passport yang mereka dapatkan setelah itu. Mereka dibawa dan diserahkan kepemerintah Belanda, untuk kemudian dibawa kembali ke Boven Digul. Suatu penghabisan cerita yang menyedihkan, susah payah berusaha kabur, toh mereka balik juga ke Digul. Dua orang teman mereka yang tadinya tertangkap oleh suku Kayakaya sudah lebih dulu tiba di Digul, menunggu Sujito, Rusman dan Kamlin</p>
<h3 id="5-minggat-dari-digul">5. Minggat dari Digul</h3>
<p>Cerita terakhir dari buku ini sama seperti cerita sebelumnya, berkisah tentang orang-orang yang berusaha kabur dari Boven Digul. Pertama-tama diceritakan dua orang dari orang-orang buangan tersebut yang bernama Sontani dan Soleh, mereka berniat untuk kabur. Suatu malam setelah mereka mempersiapkan bekal dan perlengkapan yang sekiranya dibutuhkan selama perjalanan, mereka memulai perjalanan keluar dari perkampungan di Boven Digul. Sontani dan Soleh ini tinggal di Kampung A, kampung yang awal-awal berdiri di Boven Digul. Nama-nama perkampungan di situ, dinamai dengan huruf-huruf Alfabet, mulai dari Kampung A, B hingga Kampung F.</p>
<p>Sontani sebenarnya merupakan orang buangan yang cukup berhasil ditanah buangan ini, dia mampu mengusahakan sekitarnya sehingga mampu membuat rumah yang cukup untuk dirinya dari kayu-kayu besar dan terpilih dari hutan. Karena berasal dari kayu-kayu yang bagus itu pula, rumahnya terlihat kokoh dengan dua tiang-tiang dari kayu bulat yang besar. Namun semua itu dengan berat hati harus ditinggalkan oleh Sontani, demi berharap penghidupan yang bebas diluar tanah buangan.</p>
<p>Dalam senyapnya malam mereka berjalan perlahan-lahan ditemani cahaya terang bulan. Selama perjalanan banyak cerita dan kejadian yang mereka alami. Bayangkan saja, berjalan diam-diam agar tidak ketahuan orang lain dan penjaga saat itu, mereka berulang kali tersesat. Lalu perjalanan ini merupakan perjalanan membelah hutan Papua yang lebat dan berbeda sama sekali dengan hutan di Jawa. Berbagai derita menghantui, penyakit malaria, bertemu suku asli dipedalaman Papua, suku Kayakaya namanya, harus menyeberangi sungai, mulai dari yang kecil dan dangkal hingga yang besar dan dalam. Diceritakan dalam cerita tersebut suatu ketika Sontani hanyut ketika menyeberangi sungai, mereka mengira bahwa sungai-sungai besar disana bisa disebrangi dengan berenang saja, namun salah. Walau sungai itu terlihat tenang airnya, namun arusnya dibawah sangat kuat. Dari Hulu hingga mendekati Hilir, hutan Papua masih tak tersentuh, membuat air dari hulu mengalir sepanjang tahun dengan derasnya.</p>
<p>Dilain waktu mereka pernah kehabisan bekal, mereka mengusahakan banyak hal dihutan, mulai dari memancing disungai, membuat sagu sebagaimana meniru suku Kayakaya dalam membuat sagu, hingga memakan apa saja yang ditemui dan bisa dimakan tentunya. Suatu ketika mereka menemui sarang burung Kasuari, dengan waspada mereka memeriksa sarang itu dan menemui beberapa telur didalamnya. Hati mereka girang, karena mendapatkan makanan baru yang lebih enak daripada sagu yang selama ini mereka makan.</p>
<p>Dalam perjalanan mereka, suku kayakaya banyak membantu. Sontani dan Soleh mengenal beberapa orang Kayakaya dari berbagai kampung Kayakaya yang mereka lewati. Sontani dan Soleh dapat mengenal mereka karena selama di Tanamera, banyak suku Kayakaya yang berkunjung kesitu. Suku Kayakaya suka berkunjung ke Tanamera karena mengharapkan dapat bertukar barang-barang dengan penduduk di tanah buangan tersebut. Suku Kayakaya akan membawa hasil hutan dan berharap menukarkannya dengan pakaian, kapak, golok, rokok dan lain sebagainya. Bagi mereka yang tidak mempunyai apa-apa juga untuk ditawarkan akan datang dengan tenaganya untuk mengerjakan sesuatu membantu penduduk disitu, sehingga dengan itu mereka dapat diberi sesuatu sebagai imbalannya.</p>
<p>Setiap melewati satu perkampungan suku Kayakaya, Sontani dan Soleh akan mencari teman-teman yang dikenalnya. Bila mereka mengenal salah satu dari antara suku-suku Kayakaya tersebut, Sontani dan Soleh akan merasa senang. Mereka mengajak suku Kayakaya tersebut mengobrol, walau sebenarnya Sontani dan Soleh tidak banyak mengerti bahasa Kayakaya dan begitu juga sebaliknya orang-orang Kayakaya tidak banyak tahu bahasa Indonesia. Mereka berkomunikasi dengan sepatah-patah kata yang mereka mengerti diikuti bahasa isyarat menggunakan gerakan tangan untuk mengutarakan maksud dan tujuan. Soleh dan Sontani biasanya memulai pembicaraan dengan mengucapkan “Kaimo, Kaimo” yang artinya baik. Dari situ dapatlah teman mereka dari suku Kayakaya ini mengerti bahwa Soleh dan Sontani tidak punya maksud jahat. Mereka lalu menawarkan rokok, sebatang untuk seorang kayakaya, dengan itulah mereka mengambil hati orang Kayakaya ini, sehingga kemudian mereka dapat menyampaikan maksud dan tujuan mereka.</p>
<p>Sering kali ketika bertemu dengan orang Kayakaya yang dikenalnya dengan baik Sontani dan Soleh meminta izin untuk menginap dikampung mereka. Sebenarnya bukan kampung layaknya pemukiman, namun lebih seperti rumah pohon yang tingginya lebih dari 20 meter diatas pohon. Orang Kayakaya tinggal ditempat seperti itu. Dibawah rumah pohon tersebut biasanya ada tempat yang disebut rumah bawah, dirumah bawah inilah biasanya orang Kayakaya berkumpul untuk makan bersama dan berpesta. Setiap kali mereka menyambut tamu, setiap keluarga Kayakaya pasti memberikan sesuatu, setidaknya makanan untuk tamu mereka. Begitu juga dengan Soleh dan Sontani. Mereka tidak hanya diberikan makanan, namun semua orang Kayakaya datang berkumpul di rumah bawah dan mereka mengadakan perjamuan untuk Sontani dan Soleh, mereka memotong babi, memotong burung yang mereka temui dihutan, membakarnya bersama pisang dan sagu.</p>
<p>Paginya mereka akan berpamitan, sekaligus meminta tolong oleh orang Kayakaya untuk menunjukkan jalan. Tujuan akhir mereka ialah <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Sungai_Fly">sungai Fly</a>, sungai yang langsung menuju laut. Kadang kala, para kepala suku diperkampungan Kayakaya ini mengutus beberapa orang dari mereka untuk menemani dan menunjukkan Soleh dan Sontani jalan, tidak sampai tujuan akhir mereka, namun sampai tempat aman yang bisa dijangkau dari perkampungan mereka. Setidaknya berjalan satu hingga dua hari dari perkampungan Kayakaya ini.</p>
<p>Akhir cerita ini mereka dapat sampai hingga ke Hilir sungai Fly dan bertemu dengan teman-teman lainnya yang juga kabur dari Boven Digul yaitu Harjosaputro Ngusmansaleh, Suwito dan Joyo. Mereka cuman berbeda beberapa hari waktu berangkatnya setelah Sontani dan Soleh berangkat. Namun mereka bisa lebih dahulu sampai ke Sungai Fly ini karena tidak tersesat selama perjalanan. Sedangkan Sontani dan Soleh sempat tersesat karena mereka kelupaan membawa kompas. Mereka saling bertukar cerita pengalaman-pengalaman mereka selama perjalanan dan kemudian bergabung bersama-sama untuk melanjutkan perjalanan dengan berharap bisa menyeberang ke Australia.</p>
<h3 id="penutup">Penutup</h3>
<p>Membaca buku ini sebenarnya cukup susah, karena hampir semua ceritanya ditulis dengan bahasa Indonesia (bahasa melayu sebenarnya) lama dan gaya bahasa lama. Aku sempat mengulang beberapa kali bagian-bagian awal karena berusaha memahami gaya bahasanya. Namun satu kali ketika aku sudah terbiasa dengan gaya bahasanya tersebut aku dapat melaju kencang membacanya.</p>
<p>Buku ini memberikan satu pandangan baru tentang sejarah yang tak pernah tertulis dibuku sejarah pada umumnya. Selayaknya semua karya Pram yang selalu mengangkat tema sejarah dan berusaha menyampaikan satu penggalan sejarah yang tak pernah resmi tertulis namun sebenarnya terjadi, begitulah buku ini, ada penggalan sejarah tentang tempat yang sangat menyeramkan yang pernah digunakan untuk membuang para tokoh-tokoh Komunis dan tokoh yang dianggap berbahaya oleh pemerintah. Memang kebanyakan dari tokoh-tokoh tersebut merupakan tokoh komunis namun bisa jadi ada beberapa tokoh sejarah yang tidak sempat kita kenal.</p>
<p>Cerita yang paling kusuka ialah cerita ketiga yang berjudul <em>“Darah dan Air Mata di Boven Digul”</em>. Dalam cerita ini banyak makna-makna dan pemikiran-pemikiran yang berusaha disampaikan oleh penulis. Pemikiran-pemikiran tersebut secara apik tersublim dalam cerita-cerita antar tokoh didalam cerita tersebut. Aku setuju dengan pemikiran penulis bahwa sebenarnya Ideologi Komunis itu tidak relevan lagi dalam kehidupan, karena si pemalas dan si yang tidak mau bekerja berkesempatan menggantungkan hidupnya kehasil upaya bersama. Sedangkan si yang berkemampuan lebih dan si kaya, pasti tidak akan rela sepenuhnya ketika hasil jerih payah mereka dibagi kepada mereka yang malas ini. Ideologi yang ideal memang harusnya seperti sekarang ini, siapa yang berkemampuan dan berkemauan dapat mengembangkan diri lebih dan berusaha lebih. Setiap orang harus berjuang dan berusaha lebih agar dapat bertahan. Kemudian disitulah peran pemerintah untuk mendistribusikan kekayaan (pajak) tersebut kepada setiap orang melalui jaminan kesehatan dan jaminan pendidikan yang dapat merubah kehidupan semua orang.</p>
<hr />
<p>Aku berusaha untuk menceritakan kembali intisari dari cerita tersebut ditulisan kali ini, tidak ada yang ditambahi, mungkin banyak yang dikurangi mengingat untuk menceritakan kembali, aku mengandalkan ingatan dan cerita-cerita ini cukup panjang untuk diingat secara detail. Bagian yang paling susah ialah ketika menceritakan kembali cerita ketiga yang berjudul <em>“Pandu Anak Buangan”</em>. Menceritakan kembali bagian ini dengan bahasaku menjadi sangat sulit karena cerita ini sangat panjang, jalan ceritanya yang diplot penulis juga cukup detail menceritakan kehidupan Pandu si tokoh utama dari awal hidupnya hingga kepuncak konflik yang dihadapi Pandu.</p>
<p>Lalu, cerita lainnya yang cukup sulit untuk diceritakan kembali juga ialah cerita keempat <em>“Antara Hidup dan Mati atau Buron dari Boven Digul”</em>, disini penulis tidak menceritakan secara lengkap nama-nama tokoh yang terlibat dalam cerita tersebut yang kabur dari Boven Digul, sehingga ketika aku menceritakannya kembali, aku banyak menggunakan kata ganti “mereka” disitu. Ketika aku membacanya kembali memang tidak enak rasanya. Namun yah apa mau dikata penggunaan kata ganti ‘mereka’ disini tidak dapat terhindarkan rasaku. Karena memang yang menjadi pusat cerita hanya 4 orang saja dari kelompok tersebut yaitu, Sujito, Kamlin, Rusman dan Suwirjo.</p>
<p>Akhir kata, aku berharap cerita yang kutuliskan kembali disini dapat menghibur dan bermanfaat bagi kita semua. Sebenarnya banyak novel dari penulis Indonesia dan yang menceritakan Indonesia diluar sana, banyak juga yang bagus dan enak untuk dibaca. Harapan yang sangat besar juga dapat menambah minat baca kita kepada novel-novel sejarah Indonesia. Agar kita dapat semakin mengenal budaya dan identitas kita.</p>
</description>
<pubDate>Mon, 13 Jun 2022 00:00:00 +0700</pubDate>
<link>https://www.harapan.me/ceritadigul</link>
<guid isPermaLink="true">https://www.harapan.me/ceritadigul</guid>
</item>
<item>
<title>Terasing! Di Negeri Sendiri</title>
<description><!-- _includes/image.html -->
<div class="image-wrapper">
<a href="/terasing" title="Terasing! Di Negeri Sendiri" target="_blank">
<img src="https://www.harapan.me//images/posts/2022/may/IMG_4705.JPEG" alt="Terasing! Di Negeri Sendiri" style="width:350px;" class="imgjkl" />
</a>
<p class="image-caption">Terasing! Di Negeri Sendiri - Pramoedya Ananta Toer dalam perbincangan dengan Andre Vltchek dan Rossie Indira</p>
</div>
<p>Ada lima poin yang bisa kutuliskan setelah membaca buku ini, kelima poin tersebut ialah,</p>
<p><strong>Pertama</strong>, aku beruntung mendapatkan buku ini. Disini, di London. Awalnya aku cuman jenuh dengan daftar bacaanku yang semuanya kebanyakan berbahasa Inggris. Aku coba mencari di-Ebay lalu kemudian di-Amazon.co.uk dan ternyata Amazon menyediakan beberapa buku berbahasa Indonesia. Selain buku ini ada juga <a href="/coratcoret">Corat-coret di-Toilet karya Eka Kurniawan</a> dan <a href="/hanyakamu">Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu oleh Norman Erikson Pasaribu</a> yang aku beli di Amazon. Ketiga buku ini dicetak di-Inggris oleh Amazon sendiri.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, aku kesal setelah membaca buku ini. Kesal yang sebenarnya tidak tahu kepada siapa. Aku seperti turut merasakan kesal seperti kesal yang dirasakan oleh Pram terhadap perlakuan negara kepadanya. Semua yang dimiliki Pram dirampas oleh negara, rumahnya diambil, naskah-naskahnya dirampas dan dibakar, perpustakaannya dan koleksi buku, surat-surat dan semua barangnya dimusnahkan dan yang paling menyedihkan kehidupannya direnggut, Pram dibuang ke Pulau Buru. Selama hidupnya Pram penahanan menjadi hal yang sangat umum baginya. Dia pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial Belanda, 1 tahun pada masa Orde Lama dan 14 tahun sebagai tahanan politik tanpa prose pengadilan pada masa Orde Baru.</p>
<p>Dalam buku yang ditulis oleh Andre Vltchek dan Rossie Indira ini, mereka mendatangi Pram untuk menyusun buku ini, melakukan wawancara yang banyak menguak perasaan dan isi hati Pram. Wawancara yang dilakukan pada sekitaran May 2004, saat itu umur Pram sudah 80 tahun, sudah sangat tua dan mulai sakit-sakitan. Pram sudah lama berhenti menulis, mungkin setidaknya sejak tahun 2000, dimana ketika itu dia terserang stroke. Bisa jadi juga jauh sebelum itu, mengingat dalam wawancara tersebut tergambar kekesalan dalam dirinya tentang semua yang telah terjadi padanya dan pada naskah-naskahnya yang tidak pernah terbit.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, buku ini masih sangat relevan bahkan hingga sekarang, tahun 2022 ini. Pram selama hidupnya telah mencurahkan sepenuhnya perhatiannya terhadap Indonesia, tidak hanya melalui karyanya, namun juga terhadap pemikiran-pemikirannya. Pram berpendapat bahwa Indonesia sampai sekarang tidak punya budaya dan karakter. Mengenai budaya mungkin sebagian besar kita tidak setuju, kita punya kekayaan budaya dari Sabang-Merauke, tapi tidak menurut Pram berpendapat,</p>
<blockquote>
<p>“Kebudayaan Indonesia yang kaya? Omong kosong, saya tidak setuju! Kebudayaan Indonesia sangatlah miskin. Mana yang disebut budaya Indonesia? Budaya Indonesia yang sebenarnya belum lahir. Apa yang kita kenal sekarang sebagai kebudayaan Indonesia hanyalah kebudayaan lokal dan daerah saja. Apa yang bisa dinamakan kebudayaan Indonesia? Memang ada sastra Indonesia, karena ditulis dalam bahasa Indonesia. Selebihnya apa? Yang ada hanyalah beberapa bentuk kebudayaan daerah, seperti misalnya tarian Bali. Setiap daerah mempunyai cerita lokal kedaerahan, terutama Aceh. tapi apakah hal itu bisa disebut kebudayaan?<br />
…”</p>
</blockquote>
<p>Pram mengkritik, kita sebagai bangsa, Indonesia, kekurangan identitas dan karakter. Kita tidak punya karakter yang kuat untuk menjadi sebuah bangsa besar, bangsa yang bisa berkuasa setidaknya di Negeri sendiri. Kita hanya konsumen dan pekerja. Kita tidak mampu memproduksi sendiri. Ditambah sikap korup dan tidak adanya pemimpin yang mempunyai wawasan ke-Indonesi-an. Yang ada hanya calon presiden yang hanya mengejar kepentingannya sendiri (atau golongannya). Indonesia sekarang diperintah oleh pencarian keuntungan! Hal yang disampaikan Pram tersebut setidaknya masih sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini.</p>
<p>Lalu apakah Pram hanya sebagai seorang yang pesimis dan mengkritik saja? Tidak, Pram juga berusaha memberikan solusi, ditengah kelelahannya dimasa-tuanya. Pram menaruh harapan pada Generasi muda untuk melanjutkan Revolusi. Sebuah Revolusi Total. <em>“Indonesia saat ini dalam keadaan membusuk. Korupsi dan birokrasi di mana-mana, dan ini dalah dua sindrom utama dari penyakit kita. Dalam hal ekonomi, hampir tidak ada produksi tapi kita punya konsumsi yang sangat besar. Keluarga tidak mengajari anak-anak mereka bagaimana berproduksi. Sebegitu buruknya sehingga hanya revolusi yang bisa menyelematkan bangsa ini. Saya rasa, Indonesia sudah tidak bisa tertolong lagi, kecuali dengan melakukan perubahan yang radikal. Dan ini harus dipimpin oleh angkatan muda. Jangan banyak bicara. Harus langsung bertidak! Obatnya hanya revolusi, tidak ada yang lain. … harus mulai dari awal. Sekarang sudah rusak sekali, reformasi apapun tidak akan berpengaruh. … Revolusi Total”</em></p>
<p><strong>Keempat</strong>, Pemuda. Pram berpendapat bahwa pemuda yang menjadi kunci dari Revolusi Total dari solusi yang ditawarkannya untuk memperbaiki Indonesia, <em>“tapi kondisi Indonesia sekarang ini memang membutuhkan revolusi. Dan semua ini berada ditangan pemuda. Angkatan tua hanya menjadi beban kemajuan saja, termasuk saya barangkali … “</em>. Namun Revolusi total ini mendapat penekanan dari Pram, bahwa yang Indonesia dan Pemuda Indonesia lawan saat ini seharusnya ialah budaya-budaya yang tidak pantas dan terbelakang, korupsi, birokrasi, budaya sebagai pesuruh/pekerja. Indonesia harus melawan keseluruhan sistem budaya, masyarakat, dan politik. Bukan hanya mereformasi Orde Baru-nya Soeharto untuk memunculkan versi lainnya yaitu Orde Baru Baru. Reformasi 1998 hingga sekarang ini cuman menghasilkan sistem yang sama yang menghancurkan Soekarno, pemikiran dan cita-citanya tentang National Character Building serta menghentikan perkembangan natural negara Indonesia. Kita tidak ingin itu terjadi lagi. Indonesia seharusnya tidak hanya menuntut sebuah rezim turun, namun juga harus dapat mampu merumuskan budaya dan karakter kita. Nilai-nilai dan sistem yang dapat mempersatukan Indonesia dan membuat Indonesia bergerak maju dari Sabang sampai Merauke. Tanpa intervensi luar!</p>
<p><strong>Kelima</strong>, tulisan ini merupakan sebuah catatan yang aku pribadi tulis sebagai sebuah pengingat <a href="/exlibris-post">mengenai buku yang pernah kubaca</a>. Kemudian, sama seperti Pram yang dalam wawancaranya yang berapi-api, sempat menekankan bahwa <em>“Saya tidak inign dibilang menghasut …“</em> Aku juga begitu. Tidak ada maksud dari tulisan ini menghasut atau menyulut sesuatu. Buku ini mengajarkanku banyak hal yang sebagian besar kusimpan sendiri dan membentuk diriku menjadi manusia Indonesia yang utuh yang siap menghadapi dunia modern.</p>
</description>
<pubDate>Thu, 12 May 2022 00:00:00 +0700</pubDate>
<link>https://www.harapan.me/terasing</link>
<guid isPermaLink="true">https://www.harapan.me/terasing</guid>
</item>
<item>
<title>Corat-coret di-Toilet</title>
<description><!-- _includes/image.html -->
<div class="image-wrapper">
<a href="/coratcoret" title="Corat-coret di Toilet" target="_blank">
<img src="https://www.harapan.me//images/posts/2022/may/IMG_4697.JPEG" alt="Corat-coret di Toilet" style="width:350px;" class="imgjkl" />
</a>
<p class="image-caption">Corat-coret di Toilet - Eka Kurniawan</p>
</div>
<p>Aku menyukai karya-karya Eka Kurniawan, setelah <a href="/sepertidendam">Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas</a> dan <a href="/exlibris">Cantik Itu Luka</a>. Kali ini aku telah selesai membaca buku kumpulan cerpennya <a href="/coratcoret">Corat-coret di Toilet</a> dan mencoba untuk menuliskannya diblog ini.</p>
<p>Buku ini merupakan kumpulan cerpen yang sebagian besar darinya sudah pernah terbit sebelumnya dikoran atau majalah di Indonesia. Terdapat 12 Cerpen, dan hampir semuanya membuatku kagum. Empat pertama menjadi paling favorit, yaitu Cerpen yang berjudul <em>Peter Pan</em>, <em>Dongeng Sebelum Bercinta</em>, <em>Corat-coret di Toilet</em> dan <em>Teman Kencan</em>. Jalan ceritanya yang berbelok di-akhir membuat penutupan dari Cerpen-cerpen tersebut tidak tertebak.</p>
<p>Eka tidak hanya bercerita dalam novelnya, namun ada nilai-nilai yang bisa kita ambil dari setiap novelnya. Yang paling menggugah ialah protes Eka terhadap realita yang dihadapi masyarakat terhadap kelakuan para pejabat yang memerintah.</p>
<p>Dalam <em>Corat-coret di Toilet</em> misalnya, secara tajam Eka menyampaikan realita rakyat terhadap wakil-wakil mereka yang tidak lagi mempercayai mereka. Eka menggunakan media toilet disebuah kampus. Dimana orang-orang menggunakan toilet silih berganti dan setiap pengguna toilet meninggalkan jejak dalam bentuk coret-coretan di dinding toilet. Dialog terjadi, orang-orang yang menggunakan toilet tersebut berbalas-balasan pendapat. Mulai dari yang serius mengomentari mengenai Reformasi dan Revolusi yang gagal, hingga tulisan-tulisan cabul. Ujung cerita ini ditutup dengan usulan dari seorang mahasiswa yang tidak suka coret-coretan didinding, dia menuliskan,</p>
<blockquote>
<p>“Kawan-kawan, tolong jangan corat-coret di dinding toilet. Jagalah kebersihan. Toilet bukan tempat menampung unek-unek. Salurkan saja aspirasi Anda ke bapak-bapak anggota dewan”</p>
</blockquote>
<p>Namun, tulisan tersebut dibalas dengan menohok oleh orang lainnya dengan tulisan,</p>
<blockquote>
<p>“Aku tak percaya bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya kepada dinding toilet.”</p>
</blockquote>
<p>Ini cerita pendek yang cerdas menurutku, pesan yang ingin disampaikan oleh Eka juga cukup jelas meresap kepada setiap pembaca cerpennya. Pasti.</p>
<hr />
<p>Banyak sebenarnya Cerpen menarik lainnya yang setelah aku membacanya diriku langsung terkagum-kagum. Kadang juga merasa kecele, aku telah mengikuti dengan serius cerita tersebut, Eka membelokkan akhirnya dengan sesuatu yang tak terduga. Tak semua cerita pendek Eka isinya protes atau menyampaikan realita yang ada dimasyarakat. Ada yang cuman cerita dengan alur yang sederhana. Satu yang pasti, semua cerita pendeknya menghibur. Cocok untuk dibaca sekali duduk.</p>
</description>
<pubDate>Sat, 07 May 2022 00:00:00 +0700</pubDate>
<link>https://www.harapan.me/coratcoret</link>
<guid isPermaLink="true">https://www.harapan.me/coratcoret</guid>
</item>
<item>
<title>Eridge Stones Loop Hiking - Pertama di Inggris</title>
<description><!-- _includes/image.html -->
<div class="image-wrapper">
<a href="https://www.google.com/maps/d/u/0/embed?mid=1WXCwDb_WWf2tbNri6DzcUGCgKHkjqKOS&amp;ehbc=2E312F" title="Eridge Stones Loop Hiking" target="_blank">
<img src="https://www.harapan.me//images/posts/2022/apr/eridge_hiking.png" alt="Eridge Stones Loop Hiking" style="width:350px;" class="imgjkl" />
</a>
<p class="image-caption">Eridge Stones Loop Hiking kali ini medannya cukup datar, namun panjang. Setidaknya aku menempuh hampir 20km kali ini</p>
</div>
<p><strong>Eridge Stones Loop Hiking - Pertama di Inggris</strong></p>
<p>Lokasi : Eridge, Sussex</p>
<p>Tinggi : 200</p>
<p>Tanggal: apr 2022</p>
<p>GPX : <a href="/images/posts/2022/apr/eridge_hiking.gpx">Eridge Stones Loop Hiking - Pertama di Inggris</a></p>
<blockquote>
<p>Sepanjang perjalanan medan yang kita lalui mulai dari hutan-hutan rindang, semak belukar, perkebunan jagung, padang rumput yang digunakan sebagai peternakan, serta kita juga mengunjungi sebuah stasiun tua untuk melihat kereta api lokomotif uap yang masih digunakan sebagai kereta wisata</p>
</blockquote>
<p>Setelah hampir 5 bulan tidak pernah hiking lagi, akhirnya kemarin aku bisa hiking lagi. Dan ini menjadi hiking pertamaku setelah pindah ke UK! Sangat-sangat bersemangat. Pasti semua yang dilakukan untuk pertama kali membuat kita lebih bersemangat.</p>
<p>Terakhir kali aku hiking ialah ke <a href="/latimojong">Gunung Latimojong</a> pada Oktober 2021 yang lalu, kemudian setelah dari situ aku fokusku tertuju ke rencana <a href="/enjoylondon">kepindahanku ke Inggris</a>. Ada keinginan untuk hiking sebenarnya, tapi lebih baik kalau aku menunda dulu dan mencoba untuk menyesuaikan diri terlebih dahulu.</p>
<p>Ketika pertama kali aku mendarat di London, Januari 2022 yang lalu, saat itu sedang berada dipuncaknya musim dingin (winter). Cuaca sangat dingin, sehari-hari suhu udara mencapai 4* C. Bahkan beberapa waktu sempat mencapai 2* C. Pasti sangat tidak menyenangkan juga melakukan hiking dalam cuaca seperti ini.</p>
<p>Sekarang, dibulan April ini, musim Semi. Suhu udara sudah sangat bersahabat, setidaknya 20-25* C. Semua urusanku mengenai kepidahan ke Inggri, administrasi dan lain sebagainya sudah selesai. Setidaknya pekerjaan sudah dapat dikendalikan dan mengerti tentang budaya kerja di Inggris. Hiking selama akhir pekan sudah bisalah.</p>
<p>Hiking kali ini, aku ikut dalam sebuah grup hiking oleh salah satu komunitas hiking di London. Saat itu grup kita sekitar 15 orang, ramai tapi cukup ideal untuk hiking seharian. Kalau lebih dari itu mungkin akan lebih susah lagi.</p>
<p>Kita memulai perjalanan dari London, titik kumpul saat itu di London Bridge Station. Sebuah station besar, namun bukan stasiun utama di London. Kemudian dengan menumpang kereta dan perjalanan sekitar 1.5 jam, kita tiba di Eridge Station. Nah dari sinilah Hiking kita dimulai.</p>
<p><a href="/images/posts/2022/apr/eridge_hiking.gpx">Download file GPX</a></p>
<iframe src="https://www.google.com/maps/d/u/0/embed?mid=1WXCwDb_WWf2tbNri6DzcUGCgKHkjqKOS&amp;ehbc=2E312F" width="828" height="651"></iframe>
<p>Dari Eridge stasiun, kita mulai berjalan kaki ke arah utara. Sebentar saja berjalan dijalan aspal. Kita mulai memasuki wilayah Nature Reserve (kalau di Indonesia mungkin seperti Cagar Alam yah). <a href="https://sussexwildlifetrust.org.uk/visit/eridge-rocks">Eridge Nature Reserve</a> merupakan wilayah cagar alam yang didalamnya terdapat formasi batu besar yang memanjang sejauh berkilometer-kilometer. Susunan batuan ini telah terbentuk sejak 50000 tahun yang lalu. Diperkirakan sejak berakhirnya zaman es didunia ini. Saat ini selain formasi batuan yang terdapat disini, cagar alam ini juga menjadi penopang kehidupan hayati seperti pakis, lumut-lumut dan tumbuhan-tumbuhan lain. Cagar alam ini juga berbatasan langsung dengan perkebunan dan peternakan warga sekitar.</p>
<!-- _includes/image.html -->
<div class="image-wrapper">
<a href="/eridge" title="Formasi batuan" target="_blank">
<img src="https://www.harapan.me//images/posts/2022/apr/IMG_2807.JPEG" alt="Formasi batuan" style="width:350px;" class="imgjkl" />
</a>
<p class="image-caption">Formasi batuan yang banyak terdapat di Eridge Stones Nature Reserve ini</p>
</div>
<p>Terdapat jalanan setapak yang dimiliki/dapat dipergunakan oleh publik didalam cagar alam ini dan itu sangat panjang, mengelilingi cagar alam, perkebunan dan peternakan disekitar sini. Selain itu, formasi batuan yang ada digunakan juga oleh masyarakat sebagai arena panjat tebing. Tinggi formasi batuan ini sekitar 3-5 meteran, sangat cocok digunakan untuk berlatih panjat tebing.</p>
<p>Sepanjang perjalanan medan yang kita lalui mulai dari hutan-hutan rindang, semak belukar, perkebunan jagung, padang rumput yang digunakan sebagai peternakan, serta kita juga mengunjungi sebuah stasiun tua untuk melihat kereta api lokomotif uap yang masih digunakan sebagai kereta wisata.</p>
<p>Memang hiking kali ini lebih ke hiking ringan dipadukan dengan wisata alam. Tapi setidaknya cukup menyenangkan dapat kealam bebas lagi dan menghirup udara segar dialam.</p>
<p>Sedikit cerita, di Inggris Raya tidak banyak Gunung tidak seperti di Indonesia. Gunung paling tinggi di Inggris ialah Mount Ben Nevis di Scotland, tingginya 1345 mdpl. Lalu ada Mount Snowdon 1085 mdpl di Wales dan Scafell Pike 978 mdpl di Lake District England. Tiga itu setidaknya yang cukup terkenal, beberapa kenalanku yang hobinya Hiking dan Climbing pasti pernah atau setidaknya tahu ketiga gunung itu. Bahkan ada sebuah kegiatan Hiking besar namanya Three Peaks National Challenge, 3 Peaks for 3 days. Para peserta harus menyelesaikan hiking keketiga puncak tersebut, dengan total perjalanan 37 km berjalan dan 743 km mengemudi (tiga puncak ini terletak ditiga lokasi yang berbeda).</p>
<p>Ada keinginan juga untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, tapi mungkin nanti disimpan dulu hingga waktunya.</p>
<!-- Jekyll Ideal Image Slider Include -->
<!-- https://github.com/jekylltools/jekyll-ideal-image-slider-include -->
<!-- v1.8 -->
<!-- Jekyll Ideal Image Slider Include -->
<!-- https://github.com/jekylltools/jekyll-ideal-image-slider-include -->
<!-- v1.8 -->
<link rel="stylesheet" href="/assets/css/slider/ideal-image-slider.css" />
<link rel="stylesheet" href="/assets/css/slider/themes/default.css" />
<div id="eridge">
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2723.JPEG" title="" alt="Eridge 1/38 - Lama tidak Hiking, senang bisa hiking lagi" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2726.JPEG" title="" alt="Eridge 2/38 - Hiking kali ini, aku dengan group trip. Bersama dengan salah satu komunitas hiking di London" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2727.JPEG" title="" alt="Eridge 3/38 - Kita melewati jalanan publik yang memang disediakan untuk hiking. Walau selama perjalanan jalur yang kita lalui banyak beririsan dengan jalanan private" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2735.JPEG" title="" alt="Eridge 4/38 - Medannya dimulai dengan pohon-pohon besar dan akan banyak ditemui bebatuan besar seperti ini disepanjang perjalanan" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2738.JPEG" title="" alt="Eridge 5/38 - Selain itu medannya juga akan melewati hutan-hutan semak seperti ini, berbeda sekali kondisi alamnya dengan di Indonesia" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2750.JPEG" title="" alt="Eridge 6/38 - Area ini merupakan sebuah situs Geologi yang terdapat banyak tebing bebatuan, tingginya hingga 10 meteran" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2760.JPEG" title="" alt="Eridge 7/38 - Formasi batuan ditempat ini, terbentuk dari 50.000 tahun yang lalu. Formasi batuannya memanjang hingga berkilometer-kilometer" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2747.JPEG" title="" alt="Eridge 8/38 - Sela-sela bebatuannya kadang juga membentuk Goa seperti ini. Kebetulan yang ini tidak terlalu dalam, namun lainnya ada yang dalam dan bisa dimasukin" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2745.JPEG" title="" alt="Eridge 9/38 - Sela-sela bebatuan lainnya. Ada kalanya sela-sela tersebut dapat dilalui, namun kebanyakan sela-sela seperti yang akan kita temui, sehingga kita harus memutar untuk melewatinya" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2810.JPEG" title="" alt="Eridge 10/38 - Sela-sela bebatuan yang kami lewati" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2807.JPEG" title="" alt="Eridge 11/38 - Terik matahari yang mengintip disela-sela bebatuan" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2798.JPEG" title="" alt="Eridge 12/38 - Bebatuan disini banyak sekali digunakan untuk berlatih panjat tebing, ini salah satunya" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2808.JPEG" title="" alt="Eridge 13/38 - Tinggi tebingnya rerata 5 meter dan dengan jalur climbing yang bervariasi. Memang spot favorit untuk belajar climbing disini" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2762.JPEG" title="" alt="Eridge 14/38 - Hutan-hutan yang dilalui kebanyakan seperti ini, kering dan memanjang" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2811.JPEG" title="" alt="Eridge 15/38 - Ada area hutan yang kering, ada juga yang sedang mulai bertumbuh seperti ini" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2765.JPEG" title="" alt="Eridge 16/38 - Sebagian besar trek hiking akan melalui jalanan yang cukup bagus ditengah hutan seperti ini. Jalanan ini dipakai oleh warga juga untuk transportasi" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2813.JPEG" title="" alt="Eridge 17/38 - Kadang kita butuh menghalau ranting-ranting pohon yang jatuh kejalan yang kita lalui" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2768.JPEG" title="" alt="Eridge 18/38 - Selain melewati hutan, trek hiking ini melewati perkebunan. Ini merupakan perkebunan jagung yang sudah selesai dipanen." />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2819.JPEG" title="" alt="Eridge 19/38 - Terik matahari pukul 12 siang. Inggris terletak di Utara garis khatulistiwa sehingga matahari siang tidak tepat berada diatas kepala, panasnya juga tidak terlalu terik, namun tetap membuat kulit gosong" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2780.JPEG" title="" alt="Eridge 20/38 - Aku sangat menyukai hiking kali ini, karena aku dapat melihat langsung kehidupan perkebunan di Inggris." />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2790.JPEG" title="" alt="Eridge 21/38 - Salah satu rumah tua diperkebunan yang kami lewati" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2783.JPEG" title="" alt="Eridge 22/38 - Setelah melewati perkebunan, medan treking berubah menjadi semak belukar yang tinggi seperti ini." />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2785.JPEG" title="" alt="Eridge 23/38 - Semakin jauh kedalam, semak belukarnya semakin tinggi" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2778.JPEG" title="" alt="Eridge 24/38 - Penunjuk arah" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2802.JPEG" title="" alt="Eridge 25/38 - Hamparan bukit-bukit yang luas, telah berubah menjadi perkebunan" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2821.JPEG" title="" alt="Eridge 26/38 - Selain perkebunan, kita juga akan melewati peternakan. Salah satunya ini, kuda dengan bebasnya dipadang rerumputan seperti ini" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2824.JPEG" title="" alt="Eridge 27/38 - Diujung hiking kita, kita akan mengunjungi statiun tua yang masih mengoperasikan kereta uap" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2873.JPEG" title="" alt="Eridge 28/38 - Salah satu kereta uap yang masih beroperasi" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2872.JPEG" title="" alt="Eridge 29/38 - Kereta uap ini sangat terawat, katanya ini digunakan sebagai kereta pariwisata" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2863.JPEG" title="" alt="Eridge 30/38 - Sisi lain dari stasiun Groombridge yang kita kunjungi" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2864.JPEG" title="" alt="Eridge 31/38 - Petugas stasiun saat itu sedang menjelaskan sejarah dan informasi tentang stasiun Groombridge ini" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2839.JPEG" title="" alt="Eridge 32/38 - Banyak pohon besar dan tua seperti ini. Aku ga tahu apakah pohon ini udah mati atau sedang meranggas" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2843.JPEG" title="" alt="Eridge 33/38 - Pohon yang satu ini, selain besar dan tua, juga sangat terawat. Area ini sebenarnya sebuah lahan privat yang dimiliki oleh pemilik kebun disekitar Groombridge" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2845.JPEG" title="" alt="Eridge 34/38 - Pemilik kebun di Groombridge ini mempunyai rumah yang besar dan luas, rumah ini sempat digunakan untuk shooting film Pride and Prejudice" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2848.JPEG" title="" alt="Eridge 35/38 - Ada danau luas ditengah-tengah perkebunan ini, ikan, bebek dan banyak hewan lainnya tumbuh bebas disini." />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2851.JPEG" title="" alt="Eridge 36/38 - Ciri khas Gereja zaman dulu, halamannya dijadikan makam." />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2855.JPEG" title="" alt="Eridge 37/38 - Spread love not hate" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/apr/IMG_2889.JPEG" title="" alt="Eridge 38/38 - Diujung perjalanan kita akan melewati hamparan kebun bunga luas yang sedang mekar" />
</div>
<!-- Jekyll Ideal Image Slider Include -->
<!-- https://github.com/jekylltools/jekyll-ideal-image-slider-include -->
<!-- v1.8 -->
<script src="/assets/js/slider/ideal-image-slider.min.js"></script>
<script src="/assets/js/slider/iis-bullet-nav.js"></script>
<script src="/assets/js/slider/iis-captions.js"></script>
<script>
var eridge = new IdealImageSlider.Slider({
selector: '#eridge',
height: 'auto',
maxHeight: '621',
interval: 7000,
effect: 'fade',
});
eridge.addCaptions();
eridge.start();
</script>
<p><br /></p>
</description>
<pubDate>Wed, 20 Apr 2022 00:00:00 +0700</pubDate>
<link>https://www.harapan.me/eridge</link>
<guid isPermaLink="true">https://www.harapan.me/eridge</guid>
</item>
<item>
<title>Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu</title>
<description><!-- _includes/image.html -->
<div class="image-wrapper">
<a href="/hanyakamu" title="Hanya kamu yang tahu berapa lama lagi aku harus menuggu" target="_blank">
<img src="https://www.harapan.me//images/posts/2022/mar/hanya-kamu.JPEG" alt="Hanya kamu yang tahu berapa lama lagi aku harus menuggu" style="width:350px;" class="imgjkl" />
</a>
<p class="image-caption">Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu - Norman Erikson Pasaribu</p>
</div>
<p>Pada awal maret ini, aku pertama kali menemukan penulis Norman Erikson Pasaribu menjadi bahan omongan di-twitter. Hal ini dikarenakan bukunya yang terbaru yaitu <a href="#">Cerita-cerita Bahagia, Hampir Seluruhnya</a> masuk dalam <a href="https://thebookerprizes.com/the-booker-library/prize-years/international/2022">The Longlist, International Booker Prize 2022</a>, sebuah penghargaan yang bergengsi didunia internasional. Penghargaan ini <a href="https://thebookerprizes.com/the-international-booker-prize/the-international-booker-prize-and-its-history">dianugerahkan kepada sebuah buku</a> setiap tahunnya. Buku tersebut harus sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris dan telah diterbitkan di UK dan Irlandia.</p>
<p>Setelah mencari tahu, kesana dan kemari melalui internet, akhirnya aku ingat salah satu buku dari penulis yaitu <a href="https://www.goodreads.com/book/show/29875598-sergius-mencari-bacchus">Sergius mencari Bacchus</a>. “Nah ini, kayaknya dulu aku pernah liat buku ini, pas masih SD atau SMP gitu”. Buku ini tidak asing emang, ketika kau SMP dulu, buku ini kayaknya banyak terpajang ditoko buku saat itu. Aku semakin tertarik dengan penulis ini dan berakhir dengan membelinya di-Amazon. Hal yang cukup menarik adalah, bukunya yang berjudul <em>“Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu”</em> ternyata terdapat di-UK dan tersedia dalam layanan Amazon Prime, plus buku yang tersedia merupakan buku berbahasa Indonesia. Jarang sekali, bahkan ini pertama kalinya aku mendapatkan buku berbahasa Indonesia di-UK.</p>
<p>Buku <em>“Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu”</em> ini merupakan buku kumpulan Cerpen yang ditulis oleh Norman Erikson Pasaribu. Ada 20 Cerpen yang <del>semuanya</del> sebagian besar sudah pernah dimuat di-surat kabar atau majalah. Setelah aku membaca kumpulan cerpen ini, satu hal yang terlintas dalam pikiranku ialah cerpen-cerpen yang ditulis oleh Norman sebagian besar tentang kesedihan. Ada yang menceritakan tentang penantian, kematian, kebosanan, kesepian. Terselip juga beberapa tulisan surealis, tulisan yang menceritakan alam bawah sadar atau imajinasi manusia. Ketika membaca bagian ini aku jadi teringat tentang Haruki Murakami, bukunya yang berjudul <a href="/iq84">1Q84</a>. Dalam beberapa bagian Norman berhasil menyetarakan diri dengan Murakamai diceritanya, cuman yang menjadi pembeda, kalau Murakami akan menceritakan ceritanya dengan sangat panjang dan deskriptif, Norman menceritakannnya dengan ala kadarnya, namun tetap imajinatif, keduanya.</p>
<p>Satu kisah yang kusuka ialah ketika dia menceritakan tentang Ruhut Manihuruk seorang Novelis yang putus asa dan gila pada cerpen yang berjudul Novelis Terkutuk. Dalam cerpen ini, secara menakjubkan Norman membawa kita seperti menyelami alam pikir seorang novelis. Dilema yang dihadapi sang penulis ketika sudah sampai dititik buntu dan tidak mampu lagi mengeluarkan ide untuk tulisannya. Seketika Ruhut Manihuruk terlibat dalam obrolan dengan tokoh pada Novelnya sendiri. Bentrokan terjadi, si tokoh dalam Novel itu, Em kesal pada Ruhut dan tidak mau menuruti Ruhut dalam alur cerita yang semena-mena yang ditulis oleh Ruhut. Sebuah imajinasi yang cukup tinggi, menurutku. Aku bisa merasakan konflik yang dialami oleh Ruhut, walau sebenarnya aku belum pernah menulis fiksi.</p>
<p>Sebagian besar cerpen ini cukup ringan dan cukup penuh makna, menurutku. Sebuah cerpen dalam buku ini, cocok untuk diselesaikan dalam sekali duduku. Aku sering menyelesaikan satu atau dua cerpen dalam waktu-waktuku pergi kekantor, sambil duduk dalam perjalan di kereta. Buku <em>“Cerita-cerita Bahagia, Hampir Seluruhnya”</em> juga sudah tiba dan aku tidak sabar ingin menyelesaikan buku ini, penasaran terhadap karya sastra Indonesia yang berhasi menembus dunia Internasional.</p>
</description>
<pubDate>Tue, 29 Mar 2022 00:00:00 +0700</pubDate>
<link>https://www.harapan.me/hanyakamu</link>
<guid isPermaLink="true">https://www.harapan.me/hanyakamu</guid>
</item>
<item>
<title>The Outsider</title>
<description><!-- _includes/image.html -->
<div class="image-wrapper">
<a href="/theoutsider" title="The Outsider" target="_blank">
<img src="https://www.harapan.me//images/posts/2022/jan/the-outsider.jpg" alt="The Outsider" style="width:350px;" class="imgjkl" />
</a>
<p class="image-caption">The Outsider - Albert Camus</p>
</div>
<p>Aku beruntung mendapatkan buku ini, cetakan tahun 1982 berbahasa Inggris yang diterbitkan oleh Penguins Book. Menurut informasi katalog terbitannya, terbitan pertama buku ini berbahasa Prancis pada tahun 1942. Buku yang telah banyak diterjemahkan kedalam banyak bahasa, salah satunya bahasa Indonesia yang berjudul Orang Asing. Dahulu aku sempat melihat buku ini, dimiliki oleh seorang teman, tapi aku tidak sempat membacanya.</p>
<p>Albert Camus merupakan seorang Filsuf yang lahir di Aljazair pada tahun 1913, merupakan seorang Filsuf dari Prancis yang pernah mendapatkan hadiah nobel dibidang sastra pada tahun 1957. Dan karyanya The Outsider ini merupakan salah satu yang paling terkenal.</p>
<p>Bagian pertama dari dua bagian buku ini dibuka dengan dengan cukup menyedihkan, namun membingungkan, Meursault si tokoh utama dalam Novel ini, mendapat kabar akan kematian ibunya di panti wreda di kampung halamannya. Dia pulang untuk menghadiri pemakaman ibunya. Alih-alih dia bersedih dan menampakkan kedukaannya dalam acara pemakaman Ibunya, Meursault cukup tenang, dengan emosinya yang datar dia hadir disetiap prosesi tersebut. Namun diceritakan dia tidak menangis sama sekali atau bersedih, datar saja. Bahkan disaat-saat terakhir sebelum pemakaman, dia sempat menolak tawaran dari petugas yang membantu prosesi pemakamannya “apakah dirimu berminat untuk melihat Ibumu untuk terakhir kalinya?”</p>
<p>Dibagian kedua diceritakan bahwa Meursault menghadapi pengadilan untuk tuntutan pembunuhan. Kejadiannya saat itu, Meursault menembak seseorang, musuh dari rekan satu rumahnya. Di pengadilan, hakim penuntut lebih banyak berfokus kepada bagaimana si tokoh utama ini menghadapi kematian ibunya dengan tanpa kesedihan dan emosi yang biasa-biasa saja seolah tidak terjadi sesuatu. Memang setelah pemakaman ibunya, Meursault kembali ke kotanya, liburan bersama pacarnya dan bekerja, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.</p>
<p>Hakim menyerang Meursault, itu tidak pantas dilakukan oleh seorang anak yang sedang menghadapi pemakaman ibunya. Meursault agak sedikit jengkel karena hal itu, namun dia menerima tuduhan pembunuhan tersebut, serta hukuman yang lebih berat karena tidak bersedih dipemakaman ibunya, bahkan dia merokok didepan peti ibunya, minum kopi dan setelah pemakamannya selesai dia kembali hidup normal bahkan liburan dengan pacarnya. Dalam sebuah dialog dibuku tersebut, Meursault menuturkan bahwa ibunya memang telah mati, kita cepat atau lambat semua pasti akan mati dan itu tidak akan berdampak apa-apa. Aku pribadi memahaminya bahwa Camus ingin menyampaikan suatu gambaran hidup yang rumit, kita harus kuat dan tegar dalam hidup dan sadar akan kemampuan kita (lebih ke pasrah), tapi bagaimanapun juga kita harus terus berjalan dan berusaha sebaiknya.</p>
</description>
<pubDate>Wed, 05 Jan 2022 00:00:00 +0700</pubDate>
<link>https://www.harapan.me/theoutsider</link>
<guid isPermaLink="true">https://www.harapan.me/theoutsider</guid>
</item>
<item>
<title>Enjoy London, Semoga Sukses</title>
<description><blockquote>
<p>Begitu Entry Clearance-ku untuk memasuki Inggris dicap oleh petugas imigrasi, dia berkata ‘Enjoy London’. Aku sambil tersenyum, mengucap ‘Thank you’ namun didalam hati berteriak ‘Semoga Sukses’, untuk… diriku sendiri…</p>
</blockquote>
<hr />
<p>Ada banyak hal yang kulalui ditahun 2021 yang lalu, banyak yang berubah tanpa disengaja, banyak juga yang atas keinginanku sendiri, berubah. Perubahan terbesar ialah, memulai hidup baru di London.</p>
<p>5 Januari 2022, pukul 6 pagi waktu London, pesawat yang mebawaku dari Singapura tiba di Heathrow Airport, London. Aku turun dari pesawat dengan menenteng koper kabin, satu tas sandang dan sebuah jaket untuk mengantisipasi cuaca dingin. Teman-temanku sudah mewanti-wanti bahkan sebelum ku berangkat “siap-siap puncak musim dingin, nanti ketika dirimu tiba”.</p>
<p>Semua penumpang dari luar Inggris, diarahkan ke Imigrasi. Aku juga begitu, mengikuti kerumunan yang berjalan cepat. Dalam pikiranku, ‘ah masih pagi, tidak banyak penumpang cuman kami sepesawat’. Namun aku salah, ternyata sudah ramai berkerumun orang-orang mengantri untuk dicap paspornya.</p>
<p>Begitu tiba di area Imigrasi, penumpang yang baru tiba dibagi menjadi dua antrian, pertama, antrian untuk pemegang paspor Amerika Serikat, Kanada, Inggris dan Persemakmurannya. Satu lagi untuk pemegang paspor selain negara-negara tersebut. Antriannya panjang dan mengular hingga memenuhi satu ruangan seluas setengah lapangan sepakbola, sangat luas. Kuperhatikan ada berbagai orang disini, kebanyakan India dan China, dua ras yang paling mudah dikenali. Beberapa ada yang seperti diriku, berkulit sawo matang, rambut hitam dan wajah khas ras malayan-mongoloid. Setelah aku liat dari gambar paspor yang mereka pegang, ternyata mereka dari Filipina. Setiap orang memegang paspor dan berbagai dokumen lainnya. Aku tak tahu untuk yang lain, tapi untuk pemegang Visa kerja sepertiku, selain paspor aku juga perlu melampirkan invitation letter dari UKVI (Kantor Urusan Imigrasi dan Visa UK), dokumen order test PCR dan boarding pass.</p>
<!-- Jekyll Ideal Image Slider Include -->
<!-- https://github.com/jekylltools/jekyll-ideal-image-slider-include -->
<!-- v1.8 -->
<!-- Jekyll Ideal Image Slider Include -->
<!-- https://github.com/jekylltools/jekyll-ideal-image-slider-include -->
<!-- v1.8 -->
<link rel="stylesheet" href="/assets/css/slider/ideal-image-slider.css" />
<link rel="stylesheet" href="/assets/css/slider/themes/default.css" />
<div id="london">
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/jan/sebelum-brgkt.jpg" title="" alt="Enjoy London 1/16: Penerbanganku ke London pukul 7 malam dan siang harinya aku masih pergi kekantor lama untuk mengurus beberapa hal" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/jan/terimaksih-antar2.jpg" title="" alt="Enjoy London 3/16: Tidak banyak teman-teman yang tahu tentang rencanaku ke London, aku beruntung orang-orang yang kuberitahu mendukung selalu keputusanku. Terimakasih Koko dan Cici sudah mengantarkanku" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/jan/terminal-3.jpg" title="" alt="Enjoy London 4/16: Ada satu cita-citaku untuk tetap terus naik gunung dan ketika pulang dari suatu pendakian sebagai oleh-oleh aku membawa sticker yang biasa dijual dibasecamp pendakian dan menempelkannya dikoper. Namun sepertinya cita-cita tersebut harus tertunda dulu" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/jan/singapore.jpg" title="" alt="Enjoy London 5/16: Walau sudah beberapa kali ke Bandara Changi, tapi rasanya selalu takjub ketika kesini lagi. Bandaranya besar dan megah" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/jan/singapore2.jpg" title="" alt="Enjoy London 6/16: Transit di Bandara Changi, Singapura. Pukul 1 malam waktu Singapura atau 12 malam waktu Jakarta. Sudah mengantuk, namun masih menunggu penerbangan selanjutnya yang ternyata tertunda." />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/jan/uk-border.jpg" title="" alt="Enjoy London 7/16: Akhirnya setelah perjalanan 17 jam, sampai juga ke Inggris" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/jan/menunggu.jpg" title="" alt="Enjoy London 8/16: Pukul 8 Pagi waktu London, semua urusan telah selesai dan sudah dapat keluar dari Bandara, namun jemputan baru akan datang pukul 11. Ngopi Heula" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/jan/king-cross.jpg" title="" alt="Enjoy London 9/16: Hari ke-3 dipenginapan, setelah hasil tes PCR keluar dan aku dinyatakan negatif, maka aku sudah boleh keluar penginapan. Pemandangan begitu keluar dari penginapan." />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/jan/st-pancras.jpg" title="" alt="Enjoy London 10/16: Transportasi publik di London cukup bagus, sehingga kemana-mana cukup nyaman menggunakan transportasi publik. Ini merupakan salah satu stasiun terbesar di London, St Pancras dan King Cross" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/jan/jalan.jpg" title="" alt="Enjoy London 11/16: Januari, masih musim dingin disini. Suhunya hingga 3-5 derajat celcius, sangat dingin dan sangat jarang ada matahari, selalu mendung seperti ini" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/jan/bigben2.jpg" title="" alt="Enjoy London 12/16: Big Ben yang menjadi ciri khas kota London. Saat ini Big Ben sedang direnovasi, namun kemegahannya tetap dapat dinikmati dari kejauhan" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/jan/sunset.jpg" title="" alt="Enjoy London 13/16: Pukul 5 sore, matahari sudah turun dan mulai gelap. Musim dingin membuat siang menjadi lebih pendek." />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/jan/sunrise.jpg" title="" alt="Enjoy London 14/16: Selamat pagi London, pemandangan pagi hari dari jendela tempatku menginap. Matahari pagi baru muncul pukul 7.30 pagi di London membuat waktu tidur menjadi panjang. hahaha" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/jan/london-eye.jpg" title="" alt="Enjoy London 15/16: Tepat diseberang Big Ben, terdapat ikon kota London juga, yaitu London Eye. Sebuah Bianglala (atau Observation Wheel) besar dipinggir sungai Thames" />
<img data-src="" data-src-2x="" src="/images/posts/2022/jan/oyster.jpg" title="" alt="Enjoy London 16/16: Untuk dapat menaiki transportasi publik di London, kita harus memiliki kartu pembayaran yang namanya Oyster. Selain menggunakna Oyster, kita juga dapat menggunakan kartu debit/kredit yang terdapat fitur contactless payment" />
</div>
<!-- Jekyll Ideal Image Slider Include -->
<!-- https://github.com/jekylltools/jekyll-ideal-image-slider-include -->
<!-- v1.8 -->
<script src="/assets/js/slider/ideal-image-slider.min.js"></script>
<script src="/assets/js/slider/iis-bullet-nav.js"></script>
<script src="/assets/js/slider/iis-captions.js"></script>
<script>
var london = new IdealImageSlider.Slider({
selector: '#london',
height: 'auto',
maxHeight: '621',
interval: 7000,
effect: 'fade',
});
london.addCaptions();
london.start();
</script>
<p><br /></p>
<p>Aku disitu hampir satu setengah jam, berbaur dan mengantri bersama penumpang yang lain. Maju perlahan-lahan. Bosan dan lelah. Dalam hati, aku menyesali tidak ada buku yang kubawa saat itu, seandainya ada, aku bisa sambil membaca untuk mengusir kejenuhan. HP-ku juga tinggal 20% lagi baterainya. Ini akan kuperlukan nanti. Semua hal yang kubutuhkan ada di-hape ini, alamat yang kutuju, dokumen digital dan bukti booking ada di HP ini. Aku hanya mengambil beberapa foto selfi dengan latar “UK Border” saat itu. Aku mengirimkan foto itu ke keluarga dan beberapa teman. Ada niatan juga untuk langsung mengupload ke Instagram, tapi kuurungkan. Aku teringat, tidak banyak teman-teman dan kenalanku yang mengetahui rencana besar ini. Lebih baik nanti saja ketika aku sudah menetap dan permanen disini. Bukan masalah ingin menjadi misterius atau rahasia-rahasia-an, tapi semakin mendekati hari keberangkatan ke London, semakin aku menyadari suatu hal diluar antusiasme, gairah dan semangat, suatu hal membuatku waspada dan sedikit takut. Aku menyadari posisiku sangat rentan disini.</p>
<p>Sambil mengantri, pikiranku kemana-mana saat itu. Aku mengingat-ingat sedikit kejadian dari 5 bulan yang lalu, ketika aku mendaki <a href="/kerinci">Gunung Kerinci</a>. Perjalanan ini menjadi sebuah titik balik dan timbulnya kesadaran terhadap, “Apa yang harus kulakukan selanjutnya?” Turun Gunung dan kembali ke Jakarta, aku merelisasikan untuk serius memikirkan masa depan. Aku mulai belajar lagi dan mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan lagi, S2. Aku juga semakin serius mengikuti beberapa wawancara kerja. Memang aku sudah mulai mencari-cari pekerjaan baru sejak pertengahan tahun 2011. Pekerjaanku yang sekarang cukup menarik dan cukup bagus, namun aku ingin mencapai hal lain dalam hidup saat ini.</p>
<p>Dari sekian banyak interview dan hiring process yang kuikuti, aku beruntung dapat diterima di suatu perusahaan di London. Dan ini lah aku sekarang, pindah ke London.</p>
<p>Pada awalnya, begitu aku mendapatkan offering letter, aku sangat senang sekali. Setelah itu tahap demi tahap lagi kuhadapi, tanda-tanganin beberapa dokumen, pengurusan Visa, mengirim semua barang-barang yang tidak akan kubawa ke Inggris ke Pekanbaru, dan packing tentunya. Disela-sela itu aku juga berusaha menikmati hari-hari terakhirku di Indonesia, aku menyempatkan diri untuk ke <a href="/latimojong">Latimojong</a>. Aku balik ke Pekanbaru, pamit ke keluarga, aku sempatkan untuk berpamitan juga kepada teman-teman dekat. Semua menyenangkan, hingga tiba saat-saat aku di Bandara, semua orang yang mengantar telah pulang dan aku masuk ke Terminal keberangkatan, melakukan check-in dan memasukkan barang-barangku ke bagasi. Besok aku sudah tiba di-Inggris, aku akan memulai hidup baru, beradaptasi kembali, semua harus kulakukan sendiri disini. Ini kayak kehidupanku direset semua, sedikit teman yang kukenal (beberapa bahkan sangat jauh dikota lain), cari tempat baru untuk tinggal, belajar budaya baru dan banyak hal lainnya.</p>
<p>Masalah lainnya selain adaptasi, setiap keputusan besar pasti akan selalu diikuti dengan resiko yang besar yang kupertaruhkan. Begitu juga dengan keputusan ini, pindah ke London dan memulai karir disini. Resiko terbesar yang aku berusaha untuk mengantisipasinya ialah “bagaimana jika aku gagal disini? Bagaimana jika aku gagal kali ini?” Pindah kerja keperusahaan baru berarti harus memulai dari 0 lagi juga, harus bisa membuktikan kontribusi terhadap tim dan terhadap perusahaan. Diawal-awal aku tidak akan langsung menjadi karyawan permanen, namun aku akan mulai dari masa probation selama 3 bulan. Aku sempat mikir, antisipasi terhadap kemungkinan terburuk. Seandainya aku gagal kali ini, aku akan balik ke Indonesia, aku tidak akan langsung mencari pekerjaan, tapi aku akan berkeliling menemui teman-temanku, di Bandung dan Jakarta, duduk bersama mereka, ngoborol dan ketawa-ketawa, tanpa membahas kejadian buruk yang menimpaku, seandainya itu terjadi. Lalu aku akan pergi ke Gunung, mungkin <a href="/7summits">Binaiya untuk menyelesaikan 7 summit</a>, mungkin Slamet, untuk mendaki, sambil merenung diperjalanan, mengenai hal buruk yang baru saja kualami. Seandainya kegagalan itu terjadi. Atau kalau belum cukup, mungkin akan ku bobol semua tabunganku, untuk pergi ke Gili Nanggu di Lombok, sekali lagi dan duduk ditepi pantainya yang sepi, sambil merenungi nasib. Seandainya hal buruk itu terjadi.</p>
<p>Lain halnya, aku sudah merasa sepi, bahkan ketika aku akan berangkat saat itu. Aku memikirkan, seandainya aku merasa bosan dengan segala aktivitasku sehari-hari, apakah aku akan menemukan teman-teman yang bisa diajak nongkrong, seperti saat-saat di Jakarta atau seperti semasa kuliah di Bandung? Kemana aku akan pergi seandainya kesepian nanti? Atau hal buruk lainnya, seandainya sesuatu terjadi, aku sekarat, siapa yang akan kumintai tolong pertama kali? Kalau aku mati, mungkin aku akan menjadi mayat tak dikenal disini. Menyedihkan. Pertaruhan yang besar sekali kalau ku-ingat-ingat semua ini. Rentan sekali hidupku.</p>
<hr />
<p>Aku masih mengantri untuk di-cap paspornya. Mataku sudah sangat berat saat itu, bagaimana tidak hampir 15 jam dalam perjalanan, aku hanya dapat tidur selama 2 jam. Ingin rasanya semua urusan administrasi ini selesai dan aku dapat langsung menuju hotel dan tidur.</p>
<p>Begitu mencapai antrian dibaris paling depan, aku dapat melihat jelas banyak loket-loket disitu. Di setiap loket terdapat satu petugas Imigrasi yang akan melakukan pengecapan paspor para penumpang. Mataku tertuju pada loket nomor 12. Seorang pria dan seorang wanita berkulit putih sedang menjalani proses di Imigrasi, dilayani oleh seorang petugas. Selama lebih dari 10 menit, mereka, petugas Imigrasi dan kedua orang penumpang tersebut terlihat membicarakan sesuatu. Aku tak tahu apa, tidak terdengar sama sekali apa yang mereka bicarakan dari tempatku mengantri. Setelah itu si Petugas Imigrasi memanggil salah satu petugas lapangan lain. Lalu kedua penumpang tersebut digiring ke Area khusus. Mungkin kelengkapan Imigrasi mereka ada yang kurang. Aku tak tahu. Tapi sejujurnya aku jadi sedikit cemas, apakah aku dapat melewati proses Imigrasi ini?</p>
<p>Tiba giliranku. Aku diarahkan oleh seorang petugas dilapangan untuk menuju salah satu loket di Area Imgirasi. Aku berhadapan dengan seorang petugas Imigrasi Pria. Perawakannya tinggi, gempal dan dengan muka tegas. Dia duduk dibelakang loket dengan meja tinggi dan dibatasi dengan kaca antara petugas dan para penumpang. Aku rasa dari balik loket tersebut, petugas Imigrasi dapat melihat dengan jelas kepada setiap penumpang yang dihadapi mereka.</p>
<p>Petugas Imigrasi mengucap salam dan meminta semua dokumenku. Aksen Britishnya yang kental, membuat jantungku berdebar-debar. Kemampuan bahasa Inggrisku tidak cukup bagus untuk dapat mengikuti penutur Bahasa Inggris dengan aksen British. Gaya pengucapan yang aku sebut melambai-lambai, sangat susah untuk dimaknai ketika sampai ketelingaku. Berulang kali petugas menginstruksikan untuk menunjukkan dokumen order test PCR yang saat itu tidak aku print. Hingga pada akhirnya dengan wajah memelas dan pucat pasi, aku berkata ‘Slowly Please, Sir’. Tensi dan nada tinggi dari petugas tersebut sedikit mereda.</p>
<p>Setelah aku memberi semua dokumen yang dia minta, kemudian dia menanyakan beberapa pertanyaan yang salah satunya ialah apa yang akan aku lakukan di UK? Pertanyaan gampang pikirku, untung tidak ditanya dokumen pemeriksaan TBC atau dokumen test IELTS yang merupakan salah satu persyaratan untuk mendapatkan Visa kerja di Inggris. Seandainya itu ditanya, bisa mati aku. Tanpa sengaja aku memasukkan dokumen tersebut dikoperku yang aku taruh di Bagasi. Bingung pastinya untuk mengatakan bahwa dokumen tersebut bisa aku tunjukkan tapi aku harus melakukan klaim bagasi terlebih dahulu, sementara area klaim bagasi berada diluar Area Imigrasi. Dan untuk kesana harus selesai terlebih dahulu semua urusan clearance di Area Imigrasi. Aku tidak siap dengan pertanyaan ini.</p>
<p>Pertanyaan lain yang sudah aku persiapkan jawabannya ialah, akan menginap dimana dan berapa uang yang aku bawa. Kalau seandainya ditanyakan hal seperti itu, aku sudah siap dengan jawaban, aku tidak bawa uang se-Rupiah atau Se-Poundsterling-pun. Aku hanya bermodal kartu kredit untuk bertahan hidup nantinya, sambil menunggu gajian pertama. Aku tak punya jawaban lain yang lebih bagus selain itu. Namun pertanyaan ini tidak ditanyakan.</p>
<p>Setelah dia menanyakan apa yang akan aku lakukan di UK? Aku menjawab dengan pasti, “I am working”. Nada bicara petugas imigrasi meninggi, dengan tegas dia mengatakan “no, you are not working yet”. Seketika aku bingung, lah kan memang sesuai dengan Visa yang kudapatkan, apa lagi kurang? Dalam hati aku agak sedikit takut, apakah aku akan tidak diizinkan untuk memasuki Inggris? Aku tak tahu. Dia meminta dokumen lain, yaitu surat invitation yang disertakan ketika pengambilan Entry Clearance (cap Visa izin masuk UK). Saat itu aku bingung dan tak tahu dokumen apa itu? Petugas di-loket sebelah yang selang beberapa menit sempat curi dengar pembicaraan kami berdua menunjukkan contoh surat yang dimaksud. “Ohh, itu..” Aku paham dokumen mana yang harus kuberikan kepadanya. Aku memberikan dokumen yang diminta petugas tersebut dan kemudian dia menjelaskan bahwa Entry Clearance tersebut menandakan bahwa aku diizinkan untuk memasuki Inggris pada tenggat waktu yang ditentukan. Aku belum diizinkan untuk bekerja. Jadi statusku akan mulai bekerja. Kemudian dia kembali kekomputernya dan melakukan pengecekan. Aku tak tahu apa. Tak berselang lama, tangannya berpindah dan meng-cap pasporku. TAP!!!!!</p>
<p>Begitu Entry Clearance-ku untuk memasuki Inggris dicap oleh petugas imigrasi, dia berkata ‘Enjoy London’. Aku sambil tersenyum, mengucap ‘Thank you’ namun didalam hati berteriak ‘Semoga Sukses’, untuk diriku sendiri.</p>
<p>Ada perasaan senang dan bahagia bahwa akhirnya perjuangan panjang selama lebih kurang 6 bulan kebelakang berbuah manis. Aku dapat memasuki Inggris, dan minggu depan akan memulai pekerjaan baru. Tentunya juga hidup yang baru. Namun, ada perasaan gentar dan takut, bahwa ada kemungkinkan juga aku gagal dan tidak bertahan disini. Kemungkinan aku tidak betah dan tidak dapat menyesuaikan diri.</p>
<p>Tidak, ini bukan sebuah berpikir berlebihan (overthinking). Ini hanya sebuah kalkulasi dari lompatan hidup dan keputusan yang baru saja aku lakukan. Semua keputusan selalu akan dibayangi oleh kemungkinan kegagalan. Hal itu sedikit menghantuiku, disepanjang perjalanan bahkan sesaat setelah aku mengiyakan tawaran untuk bekerja di Inggris ini. Bahagia memang bahwa aku sudah bisa sampai sejauh ini, tapi euforia bahagia ini tidak boleh melenakan diriku. Itulah mengapa dalam hati aku berteriak ‘Semoga Sukses’.</p>
<p>Semacam pengingat bahwa ini hanya langkah awal. Titik Nol untuk sebuah tantangan baru. Sisanya aku harus berjuang lagi. Jauh lebih keras, jauh lebih gigih, jauh lebih berani! “Semoga Sukses”, untuk diriku sendiri.</p>
</description>
<pubDate>Wed, 05 Jan 2022 00:00:00 +0700</pubDate>
<link>https://www.harapan.me/enjoylondon</link>
<guid isPermaLink="true">https://www.harapan.me/enjoylondon</guid>
</item>
<item>
<title>Gunung Latimojong - dan berhenti sejenak</title>
<description><!-- _includes/image.html -->
<div class="image-wrapper">
<a href="https://www.google.com/maps/d/u/0/viewer?mid=1Tzzgt0Y2uN8Lx1nliTeXeeED2Iu82xiS&amp;ll=-3.401480635356933%2C120.0100242253393&amp;z=15" title="Gunung Latimojong" target="_blank">
<img src="https://www.harapan.me//images/posts/2021/nov/latimojong/latimojong.png" alt="Gunung Latimojong" style="width:350px;" class="imgjkl" />
</a>
<p class="image-caption">Peta 3 Dimesi Pendakian Latimojong dari Google Earth</p>
</div>
<p><strong>Gunung Latimojong - dan berhenti sejenak</strong></p>
<p>Lokasi : Enrekang, Sulawesi Selatan</p>